Salat Jumat di Mesjid Kuncen dan Nikmatnya Nasi Pecel Legendaris Madiun

ED
Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:57 WIB
Bagikan
/
  • Setelah menempuh perjalanan panjang, Tim Gowes VISI.NEWS yang terdiri dari Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono tiba di Madiun dan langsung disambut aroma khas sambal pecel yang menjadi identitas kuliner kota ini. Ada dua warung nasi pecel yang menjadi tujuan utama rombongan dan meninggalkan kesan mendalam karena cita rasanya yang luar biasa.

VISI.NEWS | MADIUN – Perjalanan napak tilas sejarah yang dilakukan Tim Gowes VISI.NEWS di Jawa Timur berlanjut ke Kota Madiun. Kota yang dikenal sebagai "Kota Pendekar" ini menyambut kedatangan rombongan bukan hanya dengan kekayaan sejarah dan budaya, tetapi juga dengan sajian kuliner yang menggugah selera, yakni nasi pecel yang sudah melegenda.

Yang pertama adalah Warung Nasi Pecel Mbak Luluk yang berada di sekitar Stasiun Kereta Api Madiun. Warung sederhana ini menjadi favorit banyak pelancong maupun warga setempat. Sepiring nasi hangat yang dipadukan dengan sayuran segar serta siraman sambal kacang yang gurih dan sedikit pedas menghadirkan sensasi rasa yang sulit dilupakan.

Destinasi kuliner berikutnya adalah Nasi Pecel Pojok yang berlokasi di Jalan HOS Cokroaminoto. Sesuai namanya, warung ini memang berada di sudut jalan dan telah berdiri sejak tahun 1965. Selama lebih dari enam dekade, warung legendaris tersebut menjadi tujuan para pecinta kuliner dari berbagai daerah. Tidak sedikit tokoh nasional yang pernah mencicipi hidangan di tempat ini, termasuk mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Andika Perkasa bersama istrinya.

Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, kedua warung tersebut menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda namun sama-sama istimewa. Sambal pecel yang khas, berpadu dengan aneka lauk tradisional, menjadikan kuliner Madiun layak masuk daftar destinasi wajib bagi para pelancong.

Namun perjalanan di Madiun tidak hanya soal kuliner. Sejak pagi, tim telah memulai penjelajahan sejarah dan religi di berbagai situs penting yang menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban Islam di wilayah Mataraman.

Perjalanan diawali dengan mengunjungi Alun-Alun Kota Madiun yang menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus ikon kota. Di kawasan ini berdiri megah Masjid Agung Baitul Hakim yang dibangun pada tahun 1830. Keberadaan masjid tersebut menjadi saksi perkembangan Islam sekaligus pusat kegiatan keagamaan masyarakat Madiun selama hampir dua abad.

Dari kawasan alun-alun, rombongan melanjutkan perjalanan menuju salah satu destinasi wisata yang belakangan menjadi magnet baru bagi wisatawan, yakni Pahlawan Street Center (PSC). Kawasan yang tertata modern ini menawarkan berbagai miniatur bangunan dan ikon dunia yang menarik perhatian pengunjung.

Di sepanjang area PSC, pengunjung dapat menemukan miniatur Ka'bah, Patung Liberty, Menara Eiffel, Big Ben, Kincir Angin Belanda, hingga berbagai ikon dunia lainnya. Kehadiran replika tersebut menjadikan kawasan ini sebagai lokasi favorit untuk berfoto sekaligus ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut menuju Masjid Kuno Taman yang dibangun pada tahun 1754. Masjid tua ini menjadi salah satu bukti berkembangnya Islam di wilayah Madiun pada masa lampau. Arsitekturnya yang masih mempertahankan karakter bangunan tradisional Jawa menghadirkan nuansa religius sekaligus historis yang kuat.

Salah satu tujuan yang paling berkesan dalam perjalanan kali ini adalah kunjungan ke Masjid Kuno Kuncen atau Masjid Nur Hidayatullah. Masjid yang berdiri sejak tahun 1567–1568 tersebut, menurut Wardoyo (73) pengurus masjid setempat merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Timur dan memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

"Masjid ini didirikan oleh Pangeran Timur, putra Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak, pada 18 Juli 1568. Kehadiran masjid tersebut menjadi bagian penting dari proses dakwah Islam yang berkembang pesat di wilayah Madiun dan sekitarnya pada abad ke-16, " ungkap Wardoyo kepada VISI.NEWS.

Hingga saat ini, bangunan Masjid Nur Hidayatullah masih mempertahankan keaslian bentuknya. Beberapa bagian memang pernah direhabilitasi, namun dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kekuatan struktur tanpa menghilangkan karakter asli bangunan bersejarah tersebut. Nuansa klasik terlihat jelas dari bentuk atap, konstruksi kayu, hingga tata ruang yang tetap mempertahankan ciri khas masjid kuno Nusantara.

Tim Gowes VISI.NEWS  berkesempatan salat Jumat di mesjid ini dan berziarah ke makam-makam di belakang Masjid yang kata Wardoyo, diantaranya malam kakek dari tokoh pers nasional Dahlan Iskan, yakni Kiai Mohammad Arif (belum terkonfirmasi). "Pak Dahlan Iskan sendiri sering berziarah ke sini," tandas Wardoyo. Ziarah tersebut menjadi momen refleksi tentang pentingnya menghargai jejak para pendahulu yang telah memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

Kunjungan ke berbagai situs bersejarah di Madiun semakin menguatkan keyakinan bahwa kota ini bukan sekadar persinggahan di jalur lintas Jawa. Madiun menyimpan warisan peradaban yang kaya, mulai dari sejarah penyebaran Islam, bangunan-bangunan tua yang masih terjaga, hingga tradisi kuliner yang tetap lestari dari generasi ke generasi. 

Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.