Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026 Jasa Marga Gelar Pemeliharaan Tol Jagorawi, Simak Jadwal dan Titiknya 11 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026 Jasa Marga Gelar Pemeliharaan Tol Jagorawi, Simak Jadwal dan Titiknya 11 Jul 2026

Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi

Desi Rossilawati
Sabtu, 11 Juli 2026 | 16:30 WIB
Bagikan
Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi

Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie)./visi.news/medium.

VISI.NEWS - Sejarah mencatat keputusan berat Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie), yang harus menghentikan proyek pesawat N250, sebuah program strategis yang menjadi simbol ambisinya dalam membangun industri dirgantara nasional.

Keputusan tersebut diambil ketika Indonesia menghadapi krisis moneter 1997-1998 yang menyebabkan kondisi perekonomian nasional berada dalam tekanan besar. Proyek N250 yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun menjadi salah satu program yang terdampak akibat kebijakan penyesuaian ekonomi saat itu.

Bagi Habibie, pesawat N250 bukan sekadar proyek industri. Pesawat tersebut merupakan hasil perjuangan panjangnya di bidang teknologi dirgantara sekaligus simbol keinginan untuk membawa Indonesia menjadi negara industri berbasis teknologi tinggi.

Habibie ingin membuktikan bahwa Indonesia mampu mengembangkan dan menguasai teknologi penerbangan secara mandiri.

Krisis Moneter Hentikan Dukungan Proyek Dirgantara

N250 mencatat sejarah ketika berhasil melakukan penerbangan perdana pada 10 November 1995. Namun, keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama karena Indonesia kemudian menghadapi krisis moneter terburuk pada 1997-1998.

Saat itu, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam, sektor perbankan mengalami tekanan, dan kondisi keuangan negara berada dalam situasi sulit.

Untuk memperoleh bantuan internasional dalam menghadapi krisis, pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) pada awal 1998. Salah satu konsekuensi dari kesepakatan tersebut adalah penghentian dukungan dana negara terhadap sejumlah proyek strategis, termasuk program pengembangan pesawat N250.

Akibat kebijakan tersebut, proyek-proyek yang membutuhkan pendanaan besar kehilangan dukungan, termasuk N250 yang saat itu masih dalam tahap pengembangan lanjutan.

N250 Terhenti Saat Menuju Sertifikasi Internasional

Penghentian proyek N250 terjadi ketika pesawat tersebut sebenarnya telah memasuki tahap akhir pengembangan. Setelah penerbangan perdana pada 1995, pesawat turboprop tersebut sedang menjalani rangkaian uji terbang untuk memperoleh sertifikasi kelayakan terbang internasional dari otoritas penerbangan Amerika Serikat (FAA) dan Eropa (JAA).

Dalam memoarnya berjudul Detik-Detik yang Menentukan (2006), Habibie menyampaikan ketidakpahamannya terhadap tuntutan IMF yang meminta pemerintah menghentikan dukungan terhadap proyek tersebut.

"Saya tidak dapat mengerti, karena sama sekali tidak beralasan rasional, mengapa IMF pada akhir tahun 1997 menuntut agar pemerintah segera tidak membantu IPTN untuk penyelesaian pesawat turboprop N250 yang canggih dan terbang perdananya pada tanggal 10 Agustus 1995 berhasil," kenang Habibie.

Menurut perhitungan pengembangannya, N250 dirancang untuk memiliki daya saing di pasar global. Pesawat turboprop tersebut diproyeksikan lebih hemat bahan bakar dibandingkan pesawat jet, khususnya untuk melayani rute penerbangan jarak pendek hingga menengah.

Selain aspek komersial, Habibie juga melihat N250 sebagai sarana untuk memperkuat konektivitas antarwilayah Indonesia yang memiliki karakter geografis kepulauan, sekaligus mendukung perkembangan sektor pariwisata.

Namun, tekanan ekonomi yang terjadi saat itu membuat pemerintah harus mengambil langkah untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Akibatnya, proyek N250 yang menjadi salah satu cita-cita besar pengembangan teknologi dirgantara Indonesia harus berhenti dan tidak berlanjut ke tahap produksi massal.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.