Rupiah Menguat ke Rp18.058 Usai BI Rate Naik
Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.
"Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Mei, yang akan dirilis hari Rabu, yang diperkirakan akan naik 4,2 persen yoy (year-on-year), setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," jelasnya.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga didukung sinyal pemerintah yang tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.
"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan," kata Ibrahim.
Bank Indonesia sebelumnya memutuskan menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
Selain menjaga stabilitas rupiah, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.
"Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," pungkasnya.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!