Rupiah Menguat ke Rp18.058 Usai BI Rate Naik
Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026) sore setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah berada di level Rp18.058 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,18 persen, peso Filipina naik 0,22 persen, dan ringgit Malaysia bertambah 0,24 persen. Dolar Singapura menguat 0,14 persen, won Korea Selatan naik 0,37 persen, serta dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.
Sementara itu, yen Jepang menjadi salah satu mata uang Asia yang melemah dengan penurunan sebesar 0,02 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, euro Eropa menguat 0,06 persen, poundsterling Inggris naik 0,28 persen, dan dolar Australia bertambah 0,13 persen. Dolar Kanada menguat 0,09 persen, sedangkan franc Swiss naik 0,10 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi ,menilai penguatan rupiah didorong membaiknya sentimen pasar global setelah Iran dan Israel mencapai kesepakatan penghentian serangan.
"Salah satu isu kunci yang ditekan Washington kepada Teheran dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari," ujar Ibrahim dalam keterangannya dikutip, Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan pasar masih mencermati risiko inflasi global yang dipicu sektor energi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Mei, yang akan dirilis hari Rabu, yang diperkirakan akan naik 4,2 persen yoy (year-on-year), setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," jelasnya.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga didukung sinyal pemerintah yang tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.
"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan," kata Ibrahim.
Bank Indonesia sebelumnya memutuskan menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
Selain menjaga stabilitas rupiah, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.
"Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," pungkasnya.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!