Rupiah Melemah, Harga Minyak Brent Turun di Bawah 73 Dolar
Mata uang rupiah./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Mata uang rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan, Jumat (26/6/2026) pagi, terkoreksi 45 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp17.988 per dolar Amerika Serikat dari penutupan hari sebelumnya di level Rp17.943 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh turunnya harga minyak mentah jenis Brent yang merosot hingga di bawah 73 dolar AS per barel.
"Penurunan harga minyak tersebut meredakan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit Indonesia," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Josua, penurunan harga komoditas minyak ini disebabkan oleh ekspektasi meningkatnya pasokan minyak yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Dampak dari melemahnya harga minyak global turut mendorong penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yang pada gilirannya membantu mengurangi kekhawatiran akan tekanan pada kondisi fiskal negara.
Data mencatat, imbal hasil obligasi pemerintah pada tenor acuan 5 tahun turun ke 7,21 persen (minus 4 basis points/bps), tenor 10 tahun menjadi 7,18 persen (minus 3 bps), tenor 15 tahun ke 7,28 persen (minus 2 bps), dan tenor 20 tahun turun ke 7,26 persen (minus 4 bps).
Aktivitas perdagangan SBN juga menunjukkan peningkatan dengan volume yang mencapai Rp24,91 triliun, naik dari Rp17,33 triliun pada sesi perdagangan sebelumnya. Hal ini menandakan aktivitas di pasar obligasi semakin meningkat.
Sementara itu, posisi kepemilikan asing terhadap SBN tercatat bertambah Rp160 miliar sehingga menjadi Rp875 triliun per 24 Juni 2026, atau setara 12,66 persen dari total outstanding.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!