Riyono: Pangan Lokal Bisa Jadi Solusi Hadapi Krisis
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 14 Mei 2025 | 13:13 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Riyono, menyoroti pentingnya memperkuat filosofi pangan nasional yang tak sekadar berorientasi pada komoditas, tetapi lebih menekankan pada nilai gizi dan keberagaman pangan lokal. Hal ini disampaikan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Menurutnya, meski Indonesia dikenal sebagai salah satu negara tersubur dengan produktivitas beras mencapai 5,6 ton per hektar, keberhasilan tersebut sering kali membatasi pemahaman masyarakat bahwa pangan bukan hanya soal beras, tetapi mencakup seluruh kebutuhan gizi.
“Pangan sebagai gizi harus memperhatikan pangan lokal sebagai inti pangan nasional kita, jangan selalu berpikir pangan sebagai komoditi semata. Pemahaman pangan sebagai gizi adalah makna hakiki, bukan semata ekonomi,” tegas Riyono.
Ia mengungkapkan, Indonesia sebenarnya sangat kaya akan sumber daya pangan yang dapat diandalkan dalam situasi darurat, dengan 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, ratusan jenis buah, sayur, hingga rempah dan bahan minuman.
“Pangan tersebut tersebar dari Sabang sampai merauke, cukup untuk mengantisipasi krisis pangan yang ada di depan mata,” ungkapnya.
Menanggapi tantangan global seperti dampak kebijakan luar negeri AS 'Trump Effect' serta konflik Rusia–Ukraina dan Timur Tengah, Riyono menekankan pentingnya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui revisi kebijakan.
Saat ini, DPR tengah membahas Perubahan Ketiga atas UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Perubahan ini dinilai strategis sebagai bagian dari upaya mendesain ulang arah kebijakan pangan nasional untuk menghadapi tantangan jangka panjang.
Riyono menjelaskan RUU Pangan harus menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Pangan kita harus kokoh dan memiliki ketahanan jangka panjang. Pangan lokal harus menjadi mainstream pangan 20 tahun ke depan saat Indonesia Emas 2045. Perlu pasal – pasal kuat untuk menjadikan pangan lokal sebagai pangan emas ke depan,” terangnya.
Riyono menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kemandirian pangan tidak cukup dengan meningkatkan produksi beras, tetapi perlu didukung dengan kebijakan yang menjadikan kekayaan pangan lokal sebagai arus utama pembangunan pangan nasional. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!