Riset PPIM, Kerentanan Pesantren terhadap Kekerasan Seksual Dapat Dikatakan Rendah
Penelitian ini juga menemukan bahwa pemahaman santri, pengasuh, dan para pemangku kepentingan pesantren terkait isu kekerasan dan kesehatan reproduksi masih perlu diperkuat melalui dukungan internal maupun eksternal.
Selain itu, para peneliti menyoroti pentingnya optimalisasi pengawasan di area fisik santri putra dan putri sebagai langkah preventif. Penataan ulang tata ruang, perbaikan fasilitas asrama, serta penempatan CCTV secara strategis disebut sebagai langkah-langkah konkret yang dapat menurunkan risiko kekerasan. Fasilitas penyaluran emosi dan kreativitas, seperti kegiatan seni dan olahraga, juga terbukti berkontribusi pada ketahanan psikologis santri, terutama dalam mengurangi tekanan dan potensi perilaku destruktif.
Temuan lain yang tidak kalah penting adalah keterbukaan pesantren terhadap pihak luar, baik dalam aspek pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan. Keterbukaan ini dinilai sebagai indikator kemajuan kelembagaan pesantren dalam memperkuat daya tahan anak dan membangun ekosistem pengasuhan yang sehat dan kolaboratif.
Antusiasme peserta sangat terlihat dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta menyampaikan apresiasi atas paparan hasil riset yang dinilai aplikatif, komprehensif, dan membuka ruang refleksi serta evaluasi bagi pelaksanaan program Pesantren Ramah Anak di masing-masing wilayah. Banyak pesantren menyatakan kesiapan untuk mengadopsi dan menindaklanjuti rekomendasi penelitian ini dalam bentuk peningkatan sistem pengasuhan dan perbaikan tata kelola kelembagaan.
Kegiatan ini menandai babak penting dalam upaya pengarusutamaan perlindungan anak di dunia pesantren. Melalui hasil penelitian yang disusun dengan pendekatan akademik yang kuat dan partisipatif, PPIM UIN Jakarta berharap data ini dapat menjadi landasan penting bagi penyusunan kebijakan, pengembangan modul pelatihan, serta desain kurikulum pesantren yang lebih ramah anak, adaptif, dan kontekstual. Program Pesantren Ramah Anak tidak sekadar slogan, tetapi menjadi jalan bersama menuju peradaban pendidikan Islam yang lebih adil, aman, dan berkeadaban. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!