REFLEKSI | Ustad dan 'Umat' Medsos

ED
Sabtu, 4 Juni 2022 | 07:38 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Ustad dan 'Umat' Medsos

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

MARAKNYA ustad yang berdakwah di ranah media sosial, tentunya semakin membuat umat kebanjiran banyak pilihan, untuk bisa belajar mendapatkan ilmu agama, pemahaman, dan wawasan yang baik, untuk menambah kwalitas asupan pemahamannya, yang akhirnya bisa menjadikan ia (secara individu) benar-benar mendapat manfaat, tercerahkan, dan tidak menjadi umat, atau individu yang sesat paham, dan salah jalan.

Dakwah yang baik dan disampaikan lewat media apapun sebagai pilihan, selama koridornya membangun konstruksi pemahaman yang positif, memberi kesadaran, bisa bermanfaat, dan bisa menambah ilmu ketauhidan pada kita, yang akhirnya menjadikan dan membuat kita takut pada Allah Azza Wa Jalla, itu merupakan dakwah qolbun salim, yang mendidik hati kita untuk patuh, membawa hati menjadi lurus, bersih, suci, dan ikhlas dalam segala hal, baik di gerak, pikiran, perasaan, perbuatan dan lain sebagainya.

Inti dari setiap dakwah adalah menganjurkan hal baik, membangun ketaqwaan, dan menguatkan keimanan. Menunjukan jalan yang lurus, yang selalu mengingatkan kita pada halusnya tipu daya Iblis yang menyesatkan.

Dakwah yang baik harus menjadi bagian yang di pegang teguh, sebagai pedoman oleh para ustad, ajengan, kiai, para ulama yang menyeru pada jalan Allah.

Bagaimana karakter dakwah yang baik ? Membuka kebermanfaat ilmu, menjadikan manusia lebih cerdas, terbuka cahaya hatinya untuk menjadi lebih alim, dan sangat cinta pada teladan Nabinya, lalu menjadi takut pada Allah yang telah memberinya banyak kebaikan, sehingga besar kemudian rasa syukurnya atas semua nikmat Allah yang telah ia terima.

Lantas bagaimana karakter dakwah yang buruk ? 1. Memadamkan cahaya hati umat, sehingga sifat riya, ujub, takabur, dan sombong serta gila pujian, dengan dampak pada umat yang di matikan cahaya hatinya, maka ia sulit di ingatkan, diluruskan, merasa paling benar sendiri, merasa paling suci, dan paling dekat dengan Tuhannya, maka umat yang bertanda seperti ini, ia sudah keras hatinya hingga membatu, karena terpapar hasutan ilmu Ustadnya. 2. Menebar fanatik buta, sehingga umat terjebak sulit berpikir jernih untuk menjadi pintar dan cerdas. 3. Membangun kekultusan individu, sehingga kesalahan baiknbesar maupun kecil dari si ulamanya, selalu di anggap benar dan mendapatkan pembelaan yang tak rasional. 4. Sangat banyak menebar fitnah, kebencian, dan mengobarkan permusuhan. 5. Memiliki ciri sangat benci pada pemerintahan, selalu berjuang membangun makar, dengan memanfaatkan kebodohan dari kalangan umat yang mudah diperdaya, dengan mengiming-iminginya sorga, bila sampai syahid dalam melakukan perjuangannya. 6. Terus mendokrin dan meracuni pikiran individu atau sekelompok umat yang tidak memiliki prinsip dan karakter kuat, sehingga bisa ia jadikan alat, sebagai kaki tangan yang mampu digerakan untuk pengkondisian situasi yang ia perlukan. 7. Tidak memberikan celah untuk berpikir bijak pada umatnya, tapi membangun pemikiran picik dan sesat. 8. Setiap statementnya selalu meresahkan dan memecah belah umat. 9. Antara ucapan, dan perbuatan tidak singkron, sah ia menjadi seorang yang munafik buat dirinya sendiri, namun menuntut orang lain untuk selalu konsisten dalam ketaatan pada Allah. 10. Dakwahnya di pakai untuk kepentingan memperkaya diri sendiri. 11. Selalu menyebut mewakili suara umat, padahal itu untuk mengamankan dan mempertahankan hegemoni cengkeramannya membodohi umat. 11. Tidak membuat umat menjadi pintar karena isi dakwahnya, tapi membuat umat jadi bingung, jadi bodoh, dan dengan itu ia selalu mampu mempelintir isue apapun, dan umat selalu memilih membenarkan konsep berpikir ulama yang ia anggap benar itu. 12. Keras terhadap ulama lain yang pandangannya benar, bahkan berani menyalahkan ulama yang benar. 13. Tidak menunjukan pribadi yang saleh, serta memiliki adab mulia, dan cenderung mengedepankan suudzon, berburuk sangka. 14. Berani menuduh orang lain murtad, kafir, bid'ah dengan sangat terang terangan. 15. Selalu menjelek-jelekan pemahaman, dan agama orang lain, sebagai topik dakwah yang ia anggap selalu jadi topik menarik untuk umat yang dibodohinya. 16. Selalu menjadikan keterpurukan umat muslim di negara lain sebagai jalan mencari donasi, namun tidak berkoordinasi dalam pemberian sumbangannya dengan institusi negara, baik di dalam negerinya, maupun di luar negerinya, sehingga celah ini, seringkali di salahgunakan olehnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.