REFLEKSI | Ustad dan 'Umat' Medsos
Beberapa poin di atas tadi adalah contoh buruk, dari dakwah yang paling bisa menyesatkan pikiran sehat pada umat, ketika umat tak memiliki dasar yang kuat dalam memfilter dakwah yang disampaikan lewat media sosial.
Awalnya sangat mengharapkan tambahan ilmu agama dari para ustad yang dapat ia lihat, dengan menonton konten YouTube, Instagram, Twitter, group WhatsApp, Telegram, Facebook Fans Page, Aplikasi Suara seperti SoundCloud, podcast, dan lainnya.
Yang terjadi malah kita di buat jadi manusia yang los rem filter dirinya, tak bisa melihat kebenaran, tak bisa menemukan jalan lurus, akibat bekal sebelumnya terhadap pengetahuan agama kita yang minim.
Di zaman sekarang ini, dimana segala macam serba digital maka dakwah yang baik dan efektif, maupun yang mampu menghipnotis, dan menipu, mampu di tampilkan secara efisien.
Dan ini menjadi PR besar bagi umat, agar bisa memilah mana ustad, ulama yang sebenarnya memiliki ilmu ketauhidan yang membangun kesadaran keimanan kita.
Maka dari itu, isi dulu pemahaman kita dengan dasar iman dan ketauhidan yang sedikitnya kita memiliki rambu-rambu pengingat.
Sombong, riya, iri, dengki, suudzon, meremehkan orang, membanggakan diri, merasa paling suci, paling benar, sok berkuasa, memegang jabatan dan gila terhormat, adalah sebagian kecil kata kunci yang harus jadi pegangan umat. Bahwa jika ada dalam diri si penyampai dakwah itu telah memperlihatkan hal tersebut, sudah selayaknya kita abaikan dan tinggalkan, karena dengan kita terus mengaguminya, tak ada kebaikan ilmu yang akan kita dapat.
Yaa kemajuan media dengan adanya internet, telah memberi dorongan yang besar, bagi banyak orang yang haus akan ilmu agama, dalam menambah wawasannya pada pemahaman agama, sehingga kekurang fahaman pada ilmu agama, bisa di tingkatkan, hingga ilmunya terus bertambah melalui bantuan adanya media ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!