REFLEKSI | Setan itu Profesional
Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.
MENYAKITI orang lain bagi mereka yang sudah biasa berbuat dosa, bukanlah perkara beban bagi dirinya. Rem ketidakadaan empatinya, dan ketidakpedulian pada apa yang dilakukannya akan jadi masalah dibelakang hari. Pada yang ia zalimi, tak menjadi resiko yang ia pikirkan.
Hal semacam ini bagi sebuah tatanan, akan sangat menganggu kosmosnya.
Bintang akan beradu, bisa jadi kiamat bagi semuanya, pun bagi dirinya, ia tak merasa tengah mengali kuburnya sendiri.
Dalam pikirannya, komitmen adalah sesuatu yang bisa ia rubah kapanpun ia suka. Tak masalah mempertaruhkan kredibilitas dan harga dirinya.
Itu terjadi, karena adanya ego yang mengkompori, dan menutup pikiran jernihnya, sehingga sesaat saja kita lengah, setan, telah bisa menghembuskan inspirasi jahatnya, dibisikilah kita inspirasi keuntungan, inspirasi kemenangan, keunggulan, bahwa kita bisa, bahwa kita hebat.
Dari situ mulailah kesesatan pikirannya muncul, dan akhirnya kesesatan itu ia jalani, tanpa diberpikir panjang lagi....! Maka jadi pemenanglah si setan itu, ia telah memenangkan peperangannya, dan kita akhirnya menjadi taklukannya.
Yang kalah adalah diri kita, hingga mau, dan telah menyediakan diri, siap kita mengikuti bisikan setan...
Untuk melangkah gagah, melewati jalan jalan kesesatan seperti yang setan kehendaki. Masyaallah !!
Menzholimi adalah menyakiti hati, menyakiti manusia, menyakiti mahluk, apakah itu secara individu, ke kelompok, atau seluruh manusia yang ada.
Awal jalannya bisa dari permulaan yang kecil, menyakiti hanya pada seseorang, setelah semakin kuat mentalitas rasa zalimnya, sekup kezaliman itu akan semakin meluas dan membesar, ia beranjak akan masuk ke sekup yang lebih luas, dan lebih kolosal.
Mulainya belajar zalim itu, seperti halnya seorang anak yang baru mulai belajar melangkah.
Dimulai dari belajar melangkah... Awalan yang berat takala si anak, takut-takut untuk memulai, hingga ia coba, satu-persatu, langkahnya ia lakukan dengan hati-hati...pelan, perlahan, dan akhirnya bisa, melangkah dengan baik.
Setelah bisa melangkah, ia akan cepat bisa berjalan.
Jika berjalan sudah lancar, ia akan mencoba untuk berlari... Dan ketika sudah lihai berlari, ia akan lakukan berlari kesana kemari, dan berlari pada setiap kesempatan, untuk melakukan hal yang sudah biasa ia lakukan untuk menyakiti orang....
Menyakiti dari awalnya hanya satu individu, satu demi satu, kemudian beranjak kekelompok demi kelompok, ia lakukan terus kezalimannya tanpa ia merasa bersalah dan berdosa...!!
Dan itulah keahlian menzalimi yang ilmunya, bisa ia pelajari dari kemampuannya belajar secara otodidak.
Bahaya jika kita memiliki hati yang kita umbar, untuk mengambil ilmu otodidak belajar menzalimi dari setan...
Setan itu profesional. Ia bisa melihat sisi karakter seseorang, yang ia tahu akan gampang ia palingkan dari kebenaran.
Setan memiliki ilmu jiwanya manusia, yang lebih dari pada seorang psikolog hebat yang dikata maestro, profesional ahlinya di alam manusia.
Cara setan melihat potensi kita, yang bisa ia kader sebagai pengikutnya, yaa cukup dengan...
Hanya melihat gerak, gesture kita !
Melihat bahasa tubuh, cara mata memandang, cara pikiran berpikir, cara kita membangun sebuah harapan awang awang.
Dari sana pintu masuk setan mulai mencari membernya.
Maka bekerjalah ia setan dengan gerak cepat secepat kilat, hanya butuh hitungan detik setan mampu merubah pikiran baik kita menjadi pikiran buruk, yang ia inginkan.
Mudahnya setan mengubah komitmen pikiran baik kita jadi pikiran sesat itu, seperti halnya kita membalik telapak tangan...!
Begitu gampangnya.
Maka wajar jika kita oleh Nabi, kita diperintahkan untuk memohon pertolongan padaNya. Pada Allah pemilik penggengam Alam. Dengan cara berdoa, agar itu, jadi musabab kita bisa di jauhkan dari bisikan setan yang terlaknat.
Jika Allah dalam firman-nya, di surat Qaaf ayat 16, "Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Bagaimana dengan Setan ? Oaalah ....ternyata setanpun menjaga gawang nalar kita, ia lebih dekat dengan otak di mana, pikiran baik dan buruk di nalar di sana....!! Astaghfirullah....
Semoga kita mampu menjaga kebaikan hati kita, kebaikan otak dan nalar kita.
Dan kita dijauhkan dari ke sesatan kesesatan berpikir culas yang bisa menzholimi sesama kita....Amin ya Allah ya Robbal Alamin.
***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!