REFLEKSI | Sajadah & Haram Jadah

ED
Jumat, 8 Agustus 2025 | 05:36 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Sajadah & Haram Jadah

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat diatas bercerita tentang seorang ulama besar di zaman Nabi Musa As. Seorang ulama  yang doanya mustajab, banyak orang  mendatanginya di saat-saat kesulitan. Dia seorang yang sangat saleh, tetapi kemudian dia tertarik dengan jabatan, harta dan bergabung dengan Fir’aun.

Dia bergabung dengan Fir’aun dan dia diminta berdoa untuk kecelakaan kaum Nabi Musa as. Dia berkata, ”Janganlah takut kepada Bani Israil, karena sesungguhnya apabila kalian berangkat berperang dengan mereka kemudian aku berdoa untuk kehancuran mereka, niscaya mereka akan binasa.”

Dengan penuh keyakinan dia berdiri di tanah lapang disaksikan oleh orang-orang lalim yang membenci Nabi Musa as. Namun saat hendak berdoa untuk kehancuran Nabi Musa As dan kaumnya, Allah palingkan lidahnya, justru berdoa untuk keburukan orang-orang lalim para pengikut Fir’aun. Bahkan lidahnya menjulur hingga sampai ke dadanya. Ia mati dalam kesesatan. Orang itu bernama  Bal’am bin Baurah. Seseorang yang ahli sajadah jadi haram jadah (su’ul khatimah).

Tentu kita berharap mengakhiri perjalanan hidup ini di sajadah bukan di haram jadah, karena itu Al Quran mengajari kita dengan doa, ”Rabbana La Tuzigh Qulubana Bada Idh Hadaytana Wa Hab Lana Min Ladunka Rahmatan Innaka Anta Al-Wahhab” - Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). ( QS. Al Imran: 8 ).

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.