REFLEKSI | Pilar Kekuatan Islam yang Hilang
Lalu si musuh bertanya kepada Ali, "Wahai Ali, kenapa engkau tidak jadi memenggal kepalaku?".
Setelah itu, Ali pun menjawab, "Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku membunuhmu karena marahku kepadamu," kata Ali.
Mendengar betapa Ali, berbuat itu atas dasar karena Allah, dan ia tahu nafsu adalah musuh terbesar umat Islam, maka musuh yang urung dipenggal oleh Ali, akhirnya bersahadat dan masuk kepada cahaya kebenaran Tauhid.
Yaa...adil akan menjauhkan kita dari perbuatan yang dzolim, perbuatan yang hina, perbuatan yang tercela.
Adil adalah nilai-nilai dan pilar keutamaan Islam, yang jika kita pegang prinsipnya, maka keutamaan karakter kita sebagai muslim, akan menjadi contoh tauladan.
Ini seperti kebijakan sang Nabi saat memecahkan masalah soal Hajar Aswad, yang solusinya di anggap baik oleh seluruh suku yang merasa berhak menempatkan batu mulia itu pada dinding Ka'bah.
Pun adil dan faham akan posisi kedudukan nafsu saat berperang, seperti dalam peristiwa duel Sayidina Ali, yang mencatatkan peristiwa tak biasa, yang akhirnya mendatangkan kesadaran musuh akan nilai keutamaan pribadi muslim yang unggul seperti yang di tunjukan Sayidina Ali.
Kini, setelah seribu empat ratus tahun lalu, jauh dari masa kenabian, umat Islam saat ini, terlihat sedang dalam kegamangan global yang menyeluruh. Negeri-negeri yang dulu sangat terkenal akan keluhuran budi dan keadilan pemimpinnya, kini tengah dalam masa kelabu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!