REFLEKSI | Patok Doa Karuhun
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
BARANGKALI kita memiliki karuhun, buyut, atau eyang. Insyaallah para tetua kita itu, selalu mendoakan anak turunannya dengan doa terbaik, doa dengan hati yang tulus, lapang, ikhlas, dan doa mahabbah, doa dengan segenap kecintaan mereka pada pemilik alam, untuk menitipkan anak cucunya pada sang pemilik kehidupan ini.
Sehingga segenap anak turunannya, sampai tujuh turunan, bahkan turunan berikutnya, selalu mendapatkan keberkahan, bisa terus menyambungkan doa, mendapat kemuliaan yang tak terputus, dengan segenap cinta-cinta yang terus bersemi dan tumbuh, dari semua anak turunannya, dari generasi ke generasi berikutnya. Alhamdulillah.
Perhatikan doa Nabi Ibrahim, doa yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam upaya agar mendapatkan keturunan yang saleh termuat dalam QS. Ibrahim ayat 40-41:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”
Doa Nabi Ibrahim lainnya dalam QS Al-Baqarah ayat 128 yang berbunyi:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Yaa, para karuhun kita, kakek-kakek kita, buyut-buyut kita, mereka para orang saleh di depan kita, telah meminta pada Allah, agar segenap anak cucunya mendapatkan kebaikan pula seperti mereka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!