REFLEKSI | Keikhlasan
Maka ketika ada seorang Waliyullah, ia diberikan setumpuk uang, dan ia menanyakan, pada orang yang memberinya uang itu, "Apakah ia masih ada dalam kekurangan hidupnya ?"
Saat si tamu ini mengiyakan, maka tahulah Waliyullah ini, sesungguhnya berat manusia yang ada di hadapannya memberikan pemberian uang tersebut padanya, sebab ia tahu, si tamu itu sebenarnya masih serba kekurangan, dan memaksakan memberi, bukan dengan keikhlasan, tapi memiliki maksud mendapatkan lebih banyak lagi dalam benaknya.
Keikhlasan dan ketulusan itu, adalah merupakan harta akhirat, bekal terbaik manusia yang akan membahagiakan kita di alam penantian.
Jika kita tulus membantu siapa pun, dan yang dibantu memerlukan pikiran serta tenaga kita, dengan senang hati tentunya akan kita bantu, selama itu tak jadi sebuah hitung-hitungan sebagai buah upah kerja, biarkan ikhlas yang menguatkan kita.
Toh, totalitas dalam kita membantunya pun, hanya sebagian kecil dari menyisihkan waktu kita buatnya.
Jadi jangan punya perhitungan ! Biarkan Allah yang mencatatkan sisi kebaikan dari apa yang kita upayakan, dan itu jadi amal kesalehan kita, Alhamdulillah.
Ini harus jadi pegangan kita! Karena, keikhlasan akan merugi jika kita sudah berhitung dengan hitungan nominal.
Sebab, berapapun uang yang akan di peroleh dengan menganti keikhlasan, lewat bayaran rupiah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!