REFLEKSI | Karma Sepiring Nasi
Oleh Didi Subandi PAGI di Cimenyan. Kabut masih menyelimuti bukit, dinginnya menusuk tulang. Di depan saya, ada sepiring nasi uduk hangat dan secangkir kopi. Uap nasi itu mengepul, mengingatkan saya pada dapur Ibu puluhan tahun lalu.
Tiba-tiba, telinga saya terngiang mantra masa kecil itu: "Habisin nasinya, Nak. Kalau sisa, nanti nasinya nangis."
Dulu, saya tertawa mendengarnya. Saya pikir itu cuma dongeng nakut-nakutin anak kecil biar nggak mubazir.
Mana bisa nasi punya air mata?
Tapi pagi ini, di depan piring ini, saya tidak tertawa. Saya justru terdiam. Di sinilah koreksi kita pagi ini menampar dengan keras.
Ternyata Ibu tidak sepenuhnya berbohong. Ada yang menangis dalam urusan nasi ini.
Bedanya, bukan nasinya yang nangis. Tapi KITA yang nangis demi mencari nasi.
Lihatlah kita hari ini. Kita bangun sebelum matahari terbit, menerjang macet, berdesak-desakan di kereta, dimaki atasan, sikut-sikutan dengan rekan kerja, pulang larut malam dengan badan remuk redam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!