REFLEKSI | Karma Sepiring Nasi
Kadang kita menahan gengsi, menahan malu, bahkan menahan air mata di toilet kantor.
Semua itu demi apa? Secara harfiah, demi bisa membeli beras. Demi "sesuap nasi" untuk keluarga di rumah.
Tapi, inilah ironi terkejamnya:
Saat kita berjuang mencarinya, kita sampai menangis darah. Saat nasi itu sudah terhidang di meja, kita memperlakukannya dengan sombong.
Kita sering mengeluh: "Yah, lauknya cuma ini?" Kita sering menyisakan makanan di piring karena alasan sepele: "Udah kenyang, nggak nafsu, rasanya kurang pas."
Kita buang sisa makanan di restoran all-you-can-eat_ karena mata kita lebih lapar dari perut kita.
Kita bekerja seperti budak untuk mendapatkan nasi itu, tapi saat memakannya kita bertingkah seperti raja yang tidak tahu terima kasih.
Kalau nasi benar-benar bisa bicara, mungkin dia tidak akan menangis. Dia akan tertawa sinis melihat kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!