REFLEKSI | Karma Sepiring Nasi

ED
Rabu, 10 Desember 2025 | 05:37 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Karma Sepiring Nasi

Kadang kita menahan gengsi, menahan malu, bahkan menahan air mata di toilet kantor.

​Semua itu demi apa? Secara harfiah, demi bisa membeli beras. Demi "sesuap nasi" untuk keluarga di rumah.

​Tapi, inilah ironi terkejamnya:

Saat kita berjuang mencarinya, kita sampai menangis darah. Saat nasi itu sudah terhidang di meja, kita memperlakukannya dengan sombong.

​Kita sering mengeluh: "Yah, lauknya cuma ini?" Kita sering menyisakan makanan di piring karena alasan sepele: "Udah kenyang, nggak nafsu, rasanya kurang pas."

Kita buang sisa makanan di restoran all-you-can-eat_ karena mata kita lebih lapar dari perut kita.

​Kita bekerja seperti budak untuk mendapatkan nasi itu, tapi saat memakannya kita bertingkah seperti raja yang tidak tahu terima kasih.

​Kalau nasi benar-benar bisa bicara, mungkin dia tidak akan menangis. Dia akan tertawa sinis melihat kita.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.