REFLEKSI | Duri Dalam Daging
Ketika, begitu sangat terpukulnya Nabi SAW atas kematian pamannya yang tewas tertombak Habsyi, suruhan Hindun, istri Abu Sufyan. Tetap Nabi SAW tak menyimpan dendam saat Habsi akhirnya masuk Islam, dan mengakui Muhammad sebagai nabi pembawa risalah Tuhan.
Dendam adalah kerikil kesucian diri. Dendam adalah batu sandungan dalam menggapai kemuliaan hati.
Buat apa dendam kita simpan. Jika akhirnya itu seperti penyakit kronis, yang akhirnya membuat bermunculannya penyakit akut lainnya.
Jiwa kita adalah jiwa yang suci, Jiwa seperti halnya Adam, yang lebih mulia dari setan yang paling awal diciptakan.
Kasihani jiwa suci yang ada pada kita. Kasihani para Nabi SAW yang sudah memberi contoh agar kita seperti apa yang telah mereka contohkan.
Dendam adalah penyakit hati. Itu sudah kita fahami semua. Namun ketika kita masih ingin menyimpannya, sebaiknya kita ikrarkan diri , untuk jadi pengikut setan, karena keras kepalanya kita tak mau melepas dendam.
Tak layak bagi kita para pengikut Nabi SAW , dan pengikut para Wali, memiliki sifat pendendam! Ketahuilah, kemulyaan kita sebagai manusia bukan pada dendam yang kita punya.
Tapi kemuliaan kita sebagai manusia, dari umat Nabi SAW ini, yang paling menonjol, adalah...
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!