REFLEKSI | Duri Dalam Daging

ED
Kamis, 5 Mei 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Duri Dalam Daging

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

DURI dalam daging adalah istilah musuh dalam selimut, yang ternyata dalam kepribadian atau kedirian kita itu, ia musuh terbesar dalam diri ini, dan itu, ya hawa nafsu kita....

Okelah jangan bicara hawa nafsu yang terlalu esensi...!! Yang sudah biasa kita dengar, dan sudah seringkali Nabi SAW wanti-wanti soal ini...bahwa perang akbar kita ya dengan musuh abadi kita itu, si hawa nafsu...!!

Kita bicara satu topik, yang menjadi duri dalam daging kita, yakni rasa dendam. Nah ini dia, kenapa ada dendam ?

Dendam adalah salah satu perasaan tersakiti, yang mengendap dalam kesadaran terdalam, untuk dibalaskan suatu saat, bila momentumnya datang.

Yaahh, segila itukah diri pendendam ingin membalaskan sakit hatinya? Bila kita disakiti, Allah sebetulnya sedang dekat dengan kita, karena kita dizholimi. Tapi apa maksudnya kita punya hati yang sama jahatnya dengan yang menjahati kita.

Manusia adalah tempatnya khilaf. Manusia adalah gudangnya dosa. Ketika kita mengendapkan dendam. Selama itu juga kita menyimpan dosa yang terus secara tidak sadar kita tumpuk dari hari ke hari, waktu ke waktu.

Senangkah kita menumpuk barang rongsok seperti dendam kita itu ?

Dendam adalah barang rongsok, yang diambil dari lemari pusakanya, sang angkara murka, yakni setan.

Ia sengaja memberimu harta warisan tak berharga, agar bagimu, itu adalah seperti kekayaan berharga, yang layak kau simpan.

Bertahun tahun, bahkan sampai akhir hidupmu, dan ajal sudah mendekat, namun dendam tak juga terbalaskan, sang durjana, setan, akan datang padamu... Warisan dendam yang merupakan barang rongsokan, yang kau genggam kuat dalam hatimu, apakah layak kau bawa mati ?

Jika jawabmu, layak, karena rasa sakitmu teramat sangat, dan dendam itu kau bawa mati..

Maka bertepuk tanganlah sang setan, penuh riang gembira, karena ia memenangkan perang besar di dirimu, dan kau mati sebagai orang taklukkan setan, sang durjana.

Sungguh kita telah tertipu. Sumpah kita telah sangat di butakan setan.

Dendam atau rasa dendam, adalah duri dalam daging yang menutup kehadiran kemuliaan diri kita.

Diri kita sangat suci, untuk sekedar syetan susupi duri dendam. Tak layak bagi umat Nabi SAW menyimpan dendam.

Ketika, begitu sangat terpukulnya Nabi SAW atas kematian pamannya yang tewas tertombak Habsyi, suruhan Hindun, istri Abu Sufyan. Tetap Nabi SAW tak menyimpan dendam saat Habsi akhirnya masuk Islam, dan mengakui Muhammad sebagai nabi pembawa risalah Tuhan.

Dendam adalah kerikil kesucian diri. Dendam adalah batu sandungan dalam menggapai kemuliaan hati.

Buat apa dendam kita simpan. Jika akhirnya itu seperti penyakit kronis, yang akhirnya membuat bermunculannya penyakit akut lainnya.

Jiwa kita adalah jiwa yang suci, Jiwa seperti halnya Adam, yang lebih mulia dari setan yang paling awal diciptakan.

Kasihani jiwa suci yang ada pada kita. Kasihani para Nabi SAW yang sudah memberi contoh agar kita seperti apa yang telah mereka contohkan.

Dendam adalah penyakit hati. Itu sudah kita fahami semua. Namun ketika kita masih ingin menyimpannya, sebaiknya kita ikrarkan diri , untuk jadi pengikut setan, karena keras kepalanya kita tak mau melepas dendam.

Tak layak bagi kita para pengikut Nabi SAW , dan pengikut para Wali, memiliki sifat pendendam! Ketahuilah, kemulyaan kita sebagai manusia bukan pada dendam yang kita punya.

Tapi kemuliaan kita sebagai manusia, dari umat Nabi SAW ini, yang paling menonjol, adalah...

Karena kita mau jadi mahluk pemaaf, yang besar pintu maafnya, sebelum orang lain meminta maaf pada kita...kita telah memaafkannya.

Alhamdulillah...raihlah kebesaran hati kita, bangun kesucian diri ini, hilangkan duri dendam dalam diri kita, sehingga oleh Allah, kita dimuliakan, dan Allah berkahi keberadaan diri kita ini. Amin.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.