REFLEKSI | Di Mana Seharusnya Ngaji
Jika dilihat dari rangkaian adanya fenomena-fenomena, yang kita saksikan, itu tak lepas dari kejadian sebelumnya, dimana suatu golongan menggunakan masjid sebagai tempat ia tidur, namun salat yang mereka lakukan malah di lapangan, dan dijalanan, di atas kendaraan, bahkan dalam suatu sorotan kamera yang terekam, sampai ada umat yang salat di tengah jalan raya, dimana lalu lalang kendaraan sangat padat, dan kondisi ibadat itu sangat mengganggu sekali para pengguna jalan lainnya.
Kita tanya hati kita, sudah tepatkah salatnya ? Bagaimana pikiran kita mencerna itu ? Balik kembali ke niat yang disebutkan, baikkah niatnya ? Ria ataukah amal saleh yang ia kerjakan ? Di sini kita sudah punya jawaban di hati kecil kita.
Umat entah bagaimana nalarnya, sekarang ini sangat agresif, dan atraktif sekali memperlihatkan wujud kesalehannya. Padahal para Rasul, para sahabat, para imam hujjatul Islam, selalu dengan hati-hati memperlakukan kitab sucinya, agar marwahnya terjaga, dan rahmatnya didapat.
Lalu bagaimana fungsi masjid yang dibangun indah di kota-kota tersebut, haruskah ditinggalkan oleh umatnya ? Disebabkan karena sedang trendnya membaca dan mengaji Al Qur'an di trotoar, dan di pinggir jalan ! Seperti juga, trennya salat berjamaah di dilapangan, di atas kap mobil dan juga di jalan raya.
Mana peran lembaga agama MUI ? Mengapa MUI tak cepat tanggap, akan maraknya peristiwa-peristiwa tak biasa ini ! Umat perlu fatwa ! Dan jangan sampai syak wasangka terus berlanjut tak ada kepastiannya.
Buat umat Muslim lainnya, yang masih ternganga akan peristiwa ini, sangat penting kita selalu menjaga niat ! Sangat penting kita selalu mengawasi nafsu ! Belajarlah kita selalu untuk mengenal adab. Bukan hanya adab menjaga hubungan sosial dengan manusia, tapi juga menjaga adab kita dalam ibadah, dalam memperlakukan kitab suci kita, dan dalam ritual ibadah lainnya, sehingga kehormatan berislamnya kita, tidak kita rusak secara sengaja tanpa kita mengetahuinya. Lalu... Apakah kita tidak sayang, tidak takut akan hancurnya amalan kita, yang akhirnya tak berarti ketika niat mengajinya kita, malah bukan karena Allah ?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!