REFLEKSI | Demo Salat
Oleh Bambang Melga Suprayogi
IBADAH salat itu sakral, hingga Nabi SAW dengan susah payah membangun masjid pertamanya, Masjid Quba di Madinah, hanya agar umat tahu, dan faham, tempat salatnya umat adalah masjid, bukan di jalan, bukan di lapangan, bukan di Monas, ataupun di atas atap mobil.
Begitupun dalam mendapat titah kewajiban salat, Nabi sampai harus bulak balik menghadap Allah di langit ke tujuh, setelah Nabi Musa memberi saran, agar Nabi meminta keringan dengan mengurangi jumlah kewajiban salatnya, yang dalam pertimbangan Nabi Musa, itu terlalu berat...!
Eh yang terjadi, malah... ada umat Nabi di jaman ini, yang gerakan salatnya malah di tambah-tambah, di buat berlebihan, padahal Nabi memohon keringan pada Allah, agar salat itu tidak memberatkan umat..."waladalah, angel wis angel tenan !"
Yaa..Salat adalah tanda ketaatan. Salat merupakan wujud dari bentuk tanda keimanan. Untuk salat yang khusu, salatnya itu perlu fokus, dan konsentrasi, agar kita benar-benar mampu untuk menghadirkan hati.
Menghadirkan hati pun perlu ketenangan, perlu kesucian, perlu kebeningan dan menjauhi emosi, tak sah, apalagi jika membawa bawa hawa nafsu dalam memulai ibadah salat.
Salat dengan membawa emosi, nafsu, dan kebencian, jauh dari tuntunan Nabi. Apalagi jika salatnya itu, hanya sekedar untuk gaya-gayaan unjuk kekuatan massa..."ngapain !"
Demo Salat dalam peristiwa kemarin yang akhirnya viral, sangat memalukan ! Maksud hati ingin mengecam soal Toa, yang terjadi malah lebih parah dari persoalan Toa itu sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!