REFLEKSI | Demo Salat

ED
Jumat, 11 Maret 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Demo Salat

Oleh Bambang Melga Suprayogi

IBADAH salat itu sakral, hingga Nabi SAW dengan susah payah membangun masjid pertamanya, Masjid Quba di Madinah, hanya agar umat tahu, dan faham, tempat salatnya umat adalah masjid, bukan di jalan, bukan di lapangan, bukan di Monas, ataupun di atas atap mobil.

Begitupun dalam mendapat titah kewajiban salat, Nabi sampai harus bulak balik menghadap Allah di langit ke tujuh, setelah Nabi Musa memberi saran, agar Nabi meminta keringan dengan mengurangi jumlah kewajiban salatnya, yang dalam pertimbangan Nabi Musa, itu terlalu berat...!

Eh yang terjadi, malah... ada umat Nabi di jaman ini, yang gerakan salatnya malah di tambah-tambah, di buat berlebihan, padahal Nabi memohon keringan pada Allah, agar salat itu tidak memberatkan umat..."waladalah, angel wis angel tenan !"

Yaa..Salat adalah tanda ketaatan. Salat merupakan wujud dari bentuk tanda keimanan. Untuk salat yang khusu, salatnya itu perlu fokus, dan konsentrasi, agar kita benar-benar mampu untuk menghadirkan hati.

Menghadirkan hati pun perlu ketenangan, perlu kesucian, perlu kebeningan dan menjauhi emosi, tak sah, apalagi jika membawa bawa hawa nafsu dalam memulai ibadah salat.

Salat dengan membawa emosi, nafsu, dan kebencian, jauh dari tuntunan Nabi. Apalagi jika salatnya itu, hanya sekedar untuk gaya-gayaan unjuk kekuatan massa..."ngapain !"

Demo Salat dalam peristiwa kemarin yang akhirnya viral, sangat memalukan ! Maksud hati ingin mengecam soal Toa, yang terjadi malah lebih parah dari persoalan Toa itu sendiri.

Kesakralan salat sudah ternodai! Peristiwa salat seperti dibuat main-main oleh mereka yang merasa wajib bela Islam. Apa yang mau mereka perjuangkan ? Padahal mereka yang datang dengan maksud membela Islam. Yang terjadi malah sebaliknya ! Mereka sangat jelas melecehkan nilai kesakralan salat sebagai tuntunan umat, dalam hubungannya dengan Allah Azza Wa Jalla.

Harusnya umat sadar ! Kita sudah sangat jelas diingatkan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat ke 8 dalam mengahadapi golongan pembela Islam ini... Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Dan banyak di kupas dalam surat Al-Baqarah, bagaimana kelompok ini dikuliti Allah.

Sudah sekian kali salat jadi peristiwa politisasi. Tidurnya di masjid, salatnya di lapangan Monas Masjidnya dekat, salatnya malah di jalanan. Sudah dihamparkan bumi, sebagai tempat terbaik untuk salat, eh malah salatnya atraktif, di atas atap mobil komando. Sungguh miris kelakuan mereka yang mengaku para pembela Islam. Yang terjadi malah Islam sengaja dilecehkan oleh mereka.

Persoalan Toa sudah jelas hanya untuk mengatur kekencangan suaranya, dan dampak yang bisa membuat ketidaknyamanan orang sekitar...!

Dipelintir isunya jadi pelarangan Adzan, menyamakan adzan dengan gonggongan anjing...hingga isu ini akhirnya memanas dan viral.

Walau akhirnya bisa clear, sudah diklarifikasi maksudnya seperti apa, ! Namun doktrin untuk selalu membesarkan persoalan yang bisa di blow up, begitu sangat kuat terekam, hingga akhirnya, petunjuk dan arahan imam besar mereka untuk membesarkan dan membangun isu, kuat dan masif dilakukan.

Sangat memojokan, sangat memukul kebenaran, yang seakan-akan Menag salah, dan isu, hoaxs mereka produksi, ini sudah merupakan kesepakatan zalim, yang dibuat secara sistematis, terstruktur, dan masif di isukan...!

Isu dan hoax mereka yang buat... Itu juga yang mereka protes...

Orang, dan massa yang sama, yang sudah jadi ormas terlarang, masih jadi lokomotif yang mengkompori pergerakan massa ini, hampir di setiap daerah.

Banyak pengikutnya, masih banyak anggotanya, dan mereka militan, susah diingatkan, pun begitu pula dengan para sekutunya, ormas Islam lainnya, serta simpatisan partai politik yang tak malu dan tak mau tau apa yang sesungguhnya di wartakan dalam surat edaran itu... Semua marah-marah, dan merasa Islam mereka terancam karena surat edaran Menteri Agama Gus Yaqult.

Rupanya Allah sudah bosan dengan atraksi yang mereka buat ! Sehingga yang terjadi, Allah tunjukan efek Toa itu sendiri.

Bahwa persoalan Toa, memang mengganggu konsentrasi mereka. Sehingga oknum MUI, yang salat di atap mobil, sampai berlebihan menambah-nambah gerakan salat, yang ujarnya, dalam sebuah keterangan, ia terganggu konsentrasinya, disebabkan dia buyar konsentrasinya sebab suara Toa...hehehe.

Baru terasa efek Toanya, setelah ia mempermalukan dirinya, salah dalam gerakan salat, akibat ia tak bisa konsentrasi, tak bisa fokus, dan pikirannya mengawang bak peragawan yang sedang demo jalan di karpet merah, catwalk, dalam peragaan busana Muslim ulama yang gagah ia kenakan...masyaallah, miris sekali.

Kita sedunia telah saksikan. Islam dibela dengan cara- cara tak beradab. Islam di bela dengan cara tak cerdas. Sangat dipertontonkan sekali cara ugal-ugalan kaum yang so bela Islam itu, ternyata malah melecehkan marwah Islam itu sendiri.

Nabi hadir ke bumi untuk mengubah perilaku umatnya. Terutama di masalah adab, etika, kesopanan, dan khususnya membangun ahlaq.

Mengapa Ahlaq kita, umat Nabi di jaman akhir, malah seperti umat masa jahiliyah ? Senang membuat isu, cepat terpancing fitnah, emosian, dan anarkis ! Pertanda sudah mulai pikunkah dunia ? Atau tanda rapuhnya hati kita, yang gampang jadi kelam, dan mudah menghitam, keras dan membatu !

Hanya Allah lah yang faham ! Allah sedang memainkan skenario Nya. Hati- hati juga kita sebagai umat Nabi, kita jangan sampai terjebak permainan Setan. Setan sedang mencari pemeran tokoh antagonisnya, anda yang kalapan, emosian, dan cepat terpancing, bisa jadi anda di tunjuk setan jadi talent yang dia cari.

Ayo bela ahlaq, sebelum kita bela Islam. Benahi ahlaq kita agar tak salah jalan, dan tau tujuan, kenapa nabi diturunkan untuk kita sebagai umatnya...Semua itu agar kita akhirnya memiliki kemuliaan ahlaq, bukan jadi umat yang kalapan, dan emosian.***

  • PenulisBambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.