REFLEKSI | Bertemu Waliyullah II
Ko bisa bertemu seorang waliyullah? Apa ciri-ciri kewaliannya ? Bagaimana kiprah hidupnya ?
Yaa, menjadi seorang wali Allah adalah mutlak hak prerogatifnya Allah. Dia yang diselamatkan kehidupan dunianya, dan ia dibekali kemahabesaranNya, yang dipenuhi pula dengan keberkahanNya.
Seorang wali tidak ada rasa cemas, khawatir, dan takut dalam dirinya !
Pandangan hidupnya lurus, penuh rasa berbaik sangka pada manusia, bahkan rasa asihnya yang tinggi, mampu menjadi pengajaran, bagaimana ia memperlakukan orang yang dimata manusia biasa, si orang ini menjijikan, dimatanya, ia masih memiliki kemuliaan, karena manusia yang dianggap menjijikan itupun, sebenarnya, manusia yang sama, yang juga di ciptakan Tuhan.
Sifat kasih sayangnya sang aulia ini, mampu meluruhkan ego, kesombongan, dan berbagai penyakit hati para manusia yang ia hadapi.
Banyak berkumpul di sekelilingnya, manusia-manusia terbuang, yang malah ia raih, dan bangunkan kesadaran nuraninya, dan ruhiahnya, sehingga mereka bak perjalanan Sayidina Umar, yang akhirnya melakukan pertaubatan, kembali ke jalan Allah, dan malah menjadi para kesatria Allah yang sedang di persiapkan jalan keselamatan dirinya, dalam meniti titian rambut di belah tujuh, Shirothol Mustaqim dunia, hingga mereka mampu lampaui itu bersama-sama, dengan selamat, subhanallah.
Yaa...mari kita renungkan ! Adakah manusia jaman ini, khusunya di Kabupaten Bandung, seseorang yang mampu memberi makan 130 orang, dengan cuma-cuma setiap hari, selama tahunan ?
Atau, adakah manusia di saat ini, yang mampu memberi tempat saudaranya yang banyak itu, tempat untuk berteduh, untuk di tinggali, tanpa ia mengharapkan bayaran ?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!