REFLEKSI | Berpikir Kritis
Bagi mereka yang mau berpikir kritis, sesungguhnya Allah memperjalankan prosesnya itu, sampai pada suatu saat ia mendapatkan apa yang ia cari.
Untuk manusia yang memiliki kekritisan, maka akan ada dalam dirinya beberapa hal keutamaan, diantaranya ; 1. Pemahamannya lebih dalam. 2. Muncul kedewasaan dalam berpikir. 3. Ia lebih bijak dan awas menyikapi fenomena. 4. Menjadi kuat keimanannya dan ketaqwaannya pada Tuhan. 5. Tidak mudah ia terpengaruh lingkungan sosial yang ia anggap menyimpang. 6. Sangat tegas sikapnya untuk berlawanan pada munculnya kejahiliyahan yang menguat di lingkungan sosialnya. 7. Tahu keadaan dan bisa membaca pemahaman lawan bicaranya. 8. Sangat peka dan berpikir kontekstual, sesuai kekinian. 9. Allah memampukan dirinya, untuk mudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mengemuka dari kegelisahan dirinya. 10. Memiliki peran lebih, dan ia mampu menjalankan fungsi sosial dalam andilnya membangun masyarakat yang perlu ia cerdaskan. 11. Menjadi sosok manusia yang bisa jadi problem solving. 12. Mampu berpikir jernih, mampu menangkap esensi-esensi hidup dalam syimbol-syimbol pertanda yang Allah berikan. 13. Allah menjadikannya berbeda sosoknya, dibanding manusia lain yang berada disekitarnya.
Itulah kelebihan manusia kritis. Ia cahaya bagi kehidupan. Dan berada didekatnya, kita pun akan mendapatkan kebaikannya.
Berpikir kritis adalah kelanjutan dari ber Iqro. Perintah membaca yang Tuhan tegaskan pada kita. Sehingga kita faham dan mendapat pemahaman itu. Hingga mampu membaca, apapun baik yang tersurat dan tersirat.
Tentunya dengan mendapatkan hasil akhir, kita bisa tercerahkan! Terbawa berpikir positif, kritis pikiran yang kita miliki, untuk bisa membaca gelagat zaman, gelagat sosial, gelagat alam, dan gelagat keghaiban yang Allah nampakan, sebagai bentuk proses pembelajaran yang selalu kita dapatkan.
Sehingga dengan itu, kita bisa memiliki modal dalam menyikapi situasi sosial yang kita hadapi pada masa ini, yang penuh dengan keriuhan, yang penuh dengan hembusan fitnah, dan itu sesungguhnya bisa mencelakakan diri kita sendiri, jika kita terjebak, terbawa tipu daya, hanyanya bisa ikut-ikutan, dan akhirnya kitapun terjerumus dalam pemikiran sesat, terdoktrin fanatisme, yang membuat kita menjadi tuli, buta, sehingga dipadamkan nurani kita, dan akhirnya kita sulit tercerahkan dalam melihat kebenaran, yang sebetulnya sangat terang benderang ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!