REFLEKSI | Berdialog dengan Allah
Senjata kita, atau alat yang mutakhir, yang bisa di gunakan agar bisa sampai ke haribaan Allah, dari seorang manusia, adalah "Hati." Hati kita itulah perantara untuk menyampaikan hajat-hajat kita agar bisa sampai kepada Nya.
Maka perbaiki hati kita, jika kita ingin bisa dan mampu berdialog dengan Nya ! Mau tak mau, syarat ini hanya khusus di miliki oleh mereka yang memang bisa menyesuaikan hatinya, dari yang sebelumnya buram menjadi bening sebening kaca.
Jika hati kita sudah sebening kaca, hati kita itu bagaikan cermin, apa yang ada di atas, akan tergambar pada cermin itu sendiri, dan bisa kita lihat.
Hati kita itulah cermin yang mampu menangkap apa yang tak terlihat, hati kitalah jembatan "antara" yang mampu menyampaikan bahasa komunikasi kita, baik yang gamblang maupun pesan simbolik kita kepadaNya.
Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air. Sahabat bertanya. "Ya Rasulullah apakah pembersihnya? beliau bersabda "Banyak mengingat maut dan membaca Alquran."
Perihal hati, menurut Maulana Muhammad Zakkariya Al-Khandalwai dalam kitabnya Fadhilah Amal; " hati diibaratkan cermin, semakin kotor, semakin redup sinar yang dipantulkannya, sebaliknya semakin bersih semakin terang pantulan sinar marifatnya."
Bagaimana memperbaiki hati kita sehingga mampu berdialog dengan Allah ?
Untuk membersihkan hati yang kotor kata, al-Kandahlawi, para ulama suluk tasawuf menganjurkan agar kita banyak melakukan mujahadah, riyadhah dan sibuk beribadah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!