REFLEKSI | Allah Tak Memberatkanmu
Alangkah kompromisnya Tuhan Kita, Allah azza wa jalla ini. Maka harus bersyukurlah kita dengan apa yang Allah bebankan kepada kita, itu sebenarnya tidak memaksakan kita untuk saklek melakukan ritual ibadahnya dengan kaku, wajib harus seperti manusia normal yang sehat, jika kita ada dalam kondisi khusus, semisal sakit, dan ada hal yang memberatkan jasmani kita disebabkan keuzuran usia.
Allah itu sangat faham kesulitan hambanya, Nabi sangat tahu kesulitan umatnya, sehingga ketika kita andai berdiri sebagai seorang ulama, jangan bebani umat dengan hal yang diluar batas kemampuan umat, mengada-ada dalam memberikan perintah, apalagi jika memaksa sampai harus bersedekah melepaskan apa yang ada di tubuh kita, benda yang memiliki nilai, lalu dipaksa untuk menyerahkan isi dompet, benda berharga, bahkan sampai kendaraan yang kita pakai untuk di berikan padanya.
Itu sungguh hal berlebihan yang memalukan. Merampok harta benda dengan nyata, dibarengi paksaan. Atas nama sedekah, atas nama infak, mengatasnamakan Islam, demi berjihad di jalanNya.
Ini mengada-ada, memaksakan kita ! Kita di buat tak berkutik, belum sempat berpikir secara rasional, karena kita di minta diatas panggung, dan dihadapan jamaah lainnya, yang membuat individu ketika diperlakukan seperti itu, pikirannya tidak dalam keadaan siap, normal, dan berpikir jernih. ini sangat tidak mendidik, menghipnotis umat, dengan tidak memberikan kesempatan berpikir baik.
Adakah ulama yang seperti ini ? Pastinya ada, dan kita harus waspada.
Mengapa ia lakukan hal yang mendorong umat tak bisa berpikir jernih ? Karena itu telah menjadi modusnya.
Ahli sekali si ustad ini, dengan permainannya, mengaburkan konsentrasi pikiran sehat umat, lantas terhipnotislah si individu itu, akhirnya ia tertipu oleh ke-'akuan diri sendiri', yang merasa hebat, saat kesadar itu hilang pasnya di atas panggung, dan baru tersadar ia terkelabuhi, setelahnya ia sampai di rumahnya.
wa mā kāna linabiyyin ay yagull, wa may yaglul ya`ti bimā galla yaumal-qiyāmah, ṡumma tuwaffā kullu nafsim mā kasabat wa hum lā yuẓlamụn
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!