Rasakan Kelokalan Cokelat Artisan Kampung Merasa Berau Kaltim

ED
Minggu, 29 September 2024 | 07:27 WIB
Bagikan
Rasakan Kelokalan Cokelat Artisan Kampung Merasa Berau Kaltim

Dari Kampung ke Ibukota

Popularitas biji kakao Kampung Merasa meroket, ketika artisan cokelat terbesar di Indonesia, Pipiltin Cocoa, bersedia menjadi buyer. Untuk mendukung kampanye Untukmu Bumiku, cokelat artisan atau perajin cokelat hanya memproduksi olahan cokelat dari biji kakao fermentasi.

Kerja sama antara Pipiltin Cocoa dan petani kakao Kampung Merasa diawali dari keberanian para petani mengirimkan sampel biji kakao ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember dalam rangka seleksi nasional. Pemenang pertamanya akan mengikuti acara dua tahunan Cocoa of Excellence di Paris. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan apresiasi kepada biji kakao terbaik di seluruh dunia.

“Kampung Merasa tidak menang, tapi berhasil masuk 8 besar. Kesuksesan ini menjadi pemantik luar biasa besar di lapangan. Masyarakat Kampung Merasa selama ini tidak menyadari bahwa kakao bisa begitu menarik dan memainkan peran penting. Hingga kemudian mereka bersama-sama belajar meningkatkan kualitas. Ini juga menjadi modal bagi mereka untuk menawarkan kakao Kampung Merasa ke Pipiltin Cocoa,” kisah Maya.

Januari 2022 menjadi momen yang menarik. Pipiltin Cocoa merilis chocolate bar Kampung Merasa 74%, cokelat single origin asli Indonesia keenam yang diproduksi oleh perajin cokelat tersebut. “Sejak itu, semua pintu kanal seperti terbuka. Tanpa kami mencari, orang datang ke Kampung Merasa. Pemkab Berau menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan yang harus dikembangkan. Bola saljunya bergulir ke mana-mana,” kata Maya.

Yang makin membanggakan, Kampung Merasa menjadi kampung rujukan bagi kampung lain untuk meningkat level biji kakao. Kabupaten lain berkunjung ke Kampung Merasa, belajar proses dari hulu ke hilir, dari pengelolaan kebun hingga proses bean to bar.

Legenda Cokelat Sempat Menghambat

Ada cerita menarik di balik kakao Merasa. Sebelum pendampingan oleh YKAN, warga Kampung Merasa berpikir bahwa kakao adalah buah beracun. “Rupanya, sewaktu mereka masih kecil, nenek moyang mereka mengatakan bahwa kakao itu beracun. Dulu, penduduk sering mengulum buah kakao. Orang dengan perut yang sensitif lalu akan mengalami sakit perut. Padahal, itu karena di dalam kakao ada kandungan kafein,” kata Maya. Saat menemani warga lokal untuk membuat biji kakao fermentasi dalam pelatihan bean to bar, YKAN mengumpulkan para ibu Kampung Merasa dan melatih mereka mengolah kakao untuk konsumsi sendiri. “Mereka takjub, karena untuk pertama kalinya mereka tahu bahwa kakao bisa diolah menjadi makanan dan minuman. Sejak itu, mereka suka membuat di rumah masing-masing untuk dijual kepada wisatawan,” kata Maya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.