RAMADANAN | Wahai Perempuan Hati-hati Berlaku Sopan dan Lemah Lembut di Depan Lelaki
Karena bisa membuat gurunya salah tafsir atau salah paham. Logika sederhananya, kata Gus Baha, tunduknya seorang perempuan yang berlebihan di depan lelaki, baik itu orang baru kenal atau guru bisa saja dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi sehingga timbul masalah lebih besar. “Sopan itu bagus, tapi kalau berlebihan tidak efektif,” tegas kiai asal Rembang ini.
Dikatakan Gus Baha, berkata lemah lembut merupakan salah satu bentuk sopan yang sebaiknya tidak dilakukan oleh perempuan cantik saat bertemu lelaki yang memiliki hati dan pikiran jelek. Tutur sapa yang lembut dan halus, lanjutnya, bisa membangkitkan pikiran kotor bagi lawan bicara, terutama lelaki.
Terkadang sampai bisa membangkitkan nafsu syahwat, lalu menghalalkan segala cara. “Bisa jadi perempuan yang bicara lembut dan halus kepada lelaki itu nanti dianggap bahwa ia mau mengikuti keinginan lelaki tersebut,” imbuh Gus Baha. Gus Baha lalu mencontohkan, semisal ada seorang murid perempuan yang bicara ke guru lelakinya bahwa ia ‘manut atau ikut’ sang guru.
Lalu dari guru tersebut berpikir, jangan-jangan murid perempuan ini mau jadi istri keduanya. Padahal, maksud ‘manut atau ikut’ yang diucapkan santri perempuan tersebut hanya dalam bab mata pelajaran.
Namun, otak kotor menangkap pesannya beda. Oleh karena itu, perempuan yang berinteraksi dalam komunitas lelaki yang punya potensi pikiran jelek, dianjurkan tidak sopan agar tidak salah paham dan merugikan perempuan.
“Inilah hebatnya Al-Qur’an, psikologi lelaki juga dibicarakan. Bawaannya lelaki ketika ketemu perempuan cantik sekaligus sopan dan memberikan harapan, maka dikejar agar dapat,” kata Gus Baha. Gus Baha juga mewanti-wanti bahwa mengajarkan sopan harus tetap dilakukan.
Namun, diberikan keterangan tambahan bahwa dalam kondisi tertentu sopan tidak diperlukan. Karena ada hal lain yang lebih penting. Dalam contoh lain, umumnya santri ketemu kiainya menunduk sopan, tidak berani melihat wajah sang kiai dan memberi jarak. Namun, ketika kiai tersebut dalam keadaan darurat, seperti terpeleset maka seorang santri harus segera mendekat.@mpa/nu.or.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!