Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

Puluhan Ribu Ton Gula Menumpuk, Nasim Khan Tuding Mafia Rafinasi Hancurkan Petani Tebu

Desi Rossilawati
Senin, 18 Agustus 2025 | 20:20 WIB
Bagikan
Puluhan Ribu Ton Gula Menumpuk, Nasim Khan Tuding Mafia Rafinasi Hancurkan Petani Tebu
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB, Nasim Khan, mendesak pemerintah bertindak tegas terhadap mafia gula rafinasi yang dinilai merugikan petani dan masyarakat luas. Saat ini, puluhan ribu ton gula produksi rakyat menumpuk di gudang karena tak terserap pasar. Kondisi itu terjadi akibat masuknya gula rafinasi impor secara masif, yang disebut Nasim sebagai praktik mafia yang dibiarkan berulang kali tanpa penindakan. “Bagaimana kita bisa mencapai swasembada pangan, khususnya gula, jika mafia gula rafinasi masih leluasa bermain? Andai dibiarkan, BUMN dan petani akan terus merugi,” tegas Nasim, politisi asal Dapil Jawa Timur III, Minggu (17/8/2025). Ia menilai, situasi ini bertolak belakang dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan swasembada pangan nasional. Karena itu, ia meminta Kemenko Pangan, Kementerian Perdagangan, dan Satgas Pangan segera menindak tegas praktik mafia gula rafinasi impor. Menurutnya, kondisi petani tebu kian terpuruk. Banyak dari mereka mengalami kerugian besar, bahkan harus menjual aset, berutang, hingga kehilangan seluruh modal. “Petani tebu menangis. Mereka hanya memohon dana pembayaran yang sudah lebih dari sebulan belum diterima, padahal masa tebang masih panjang,” ujarnya. Selain petani, pabrik gula pun terjebak masalah serius. Gudang penyimpanan penuh, kualitas tebu terancam menurun, dan beberapa pabrik bahkan harus menyewa gudang tambahan. Tangki tetes yang hampir meluap akibat banjir impor etanol juga mengancam produksi. “Kalau tangki penuh, pabrik gula bisa berhenti giling. Ini sangat darurat,” kata Nasim. Ia menekankan, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan tata niaga gula nasional. “Atas nama petani tebu, saya memohon perhatian langsung dari Bapak Presiden Prabowo agar persoalan gula ini segera ditangani tegas. Jangan biarkan petani kecil terus menjadi korban,” pintanya. Seperti diketahui, ribuan ton gula menumpuk di berbagai pabrik di Jawa Timur. Di PG Prajekan, sekitar 4.600 ton gula setara Rp 60 miliar belum terjual. Di PG Assembagoes Situbondo, 5.000 ton senilai Rp 50 miliar masih tersimpan di gudang. Sementara itu, PG Panji menyisakan 2.500 ton senilai Rp 36 miliar, dan PG Wringin Anom tercatat 3.900 ton gula tak terserap pasar selama delapan periode terakhir. Situasi ini memicu kekhawatiran serius, sebab hasil panen yang belum dibayar membuat petani kesulitan menutup biaya produksi. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.