Puasa Syawal Dipandang dari Sudut Kesehatan
Pengaturan waktu puasa ini juga mempromosikan proses pembersihan sel yang disebut autophagy. Pada proses autophagy, sel memakan bagiannya sendiri yang rusak dan selanjutnya digantikan oleh komponen fungsional yang baru (Wei dkk, 2017, Fasting-mimicking diet and markers/risk factors for aging, diabetes, cancer, and cardiovascular disease, Science Translational Medicine, 9: halaman 1-12).
Jika dikaitkan dengan puasa Syawal dan hasil penelitian sebelumnya di Osaka, penelitian Wei dan timnya sama-sama membuktikan bahwa puasa dengan jumlah hari tertentu ternyata berefek jangka panjang.
Setelah orang yang berpuasa dengan jumlah hari tertentu, yaitu 5-7 hari, kemudian menghentikan puasanya, barulah efek terhadap kesehatan muncul dan bisa dirasakan. Hal ini sangat relevan dengan puasa Syawal yang berjumlah 6 hari karena masuk dalam rentang 5-7 hari sebagaimana penelitian tersebut.
Lebih lanjut hasil penelitian Wei dan timnya tersebut mengungkapkan kemungkinan puasa dapat meningkatkan peluang umur panjang. Hal itu dijelaskan sebagai efek positif berupa pencegahan terjadinya berbagai penyakit yang terkait dengan usia lanjut maupun proses penuaan.
Apabila risiko dari penyakit seperti diabetes, kanker, dan penyakit kardiovaskular (jantung serta pembuluh darah) dapat dicegah, tentu hal ini akan meningkatkan usia harapan hidup seseorang. Berdasarkan manfaat yang banyak dari puasa Syawal sebagaimana yang telah diuraikan, maka selayaknya kaum muslimin mengamalkan semampunya. Apabila ada yang memiliki kesempatan berpuasa 6 hari berturut-turut, maka akan sangat optimal manfaatnya bagi kesehatan. Namun, apabila kesempatan dan kemampuan yang ada kurang dari itu, tentu berapapun jumlah puasa Syawal yang dapat dilakukan tetap bermanfaat untuk kesehatan. Wallahu a’lam bis shawab.
@mpa/nu.or.id/yuhansyah nurfauzi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!