Psikologi di Balik Kecintaan pada Tas, Jam, dan Perhiasan Mewah

Desi Rossilawati
Minggu, 10 Agustus 2025 | 00:00 WIB
Bagikan
Psikologi di Balik Kecintaan pada Tas, Jam, dan Perhiasan Mewah
VISI.NEWS | BANDUNG - Di tengah tekanan ekonomi dan tren hidup minimalis, konsumsi barang mewah justru terus tumbuh. Tas desainer, jam tangan mahal, hingga liburan eksklusif tetap menjadi incaran, bahkan oleh mereka yang tak selalu mampu secara finansial. Psikolog menyebut ada beberapa alasan yang mendorong orang rela mengeluarkan uang besar, bahkan berutang untuk memilikinya. Pertama, keyakinan bahwa harga mahal berarti kualitas tinggi (price-quality heuristic). Kedua, barang mewah berfungsi sebagai simbol status dan prestise sosial. Ketiga, proses membeli dan memiliki produk ini menghadirkan pengalaman emosional yang membanggakan. Alasan lain meliputi kekuatan reputasi merek (halo effect), daya tarik kelangkaan, dan peran fashion mewah sebagai sarana ekspresi diri. Tak sedikit pula yang mengapresiasi kualitas material dan keahlian pembuatannya, menganggapnya sebagai karya seni yang layak dihargai tinggi. Secara biologis, pembelian barang mewah memicu pelepasan dopamin di otak, menciptakan rasa puas dan bahkan efek ketagihan. Media sosial dan influencer juga memperkuat citra glamor, membuat barang tersebut kian diidamkan. Pada akhirnya, keputusan membeli sering kali lebih dipicu dorongan emosional ketimbang perhitungan logis, menjadikan konsumsi barang mewah sebagai fenomena yang terus bertahan di berbagai lapisan masyarakat. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.