Program Desa Sejahtera Binaan IAIN Bone Eskpor Minyak Nilam 4,7 Miliar
“Alhamdulillah, di tahun 2020 kami lolos bersama beberapa perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya. Program ini telah memberikan manfaat pada lima desa binaan di dua kabupaten, yakni Kabupaten Wakatobi dan Bombana, melalui sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Insya Allah, di tahun 2022 ini kami akan mendapatkan program lanjutan dari PT Astra International Tbk untuk tahun ketiganya,” ungkap Syamsuriadi.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, mengapresiasi kiprah dan kontribusi dampingan pengabdian masyarakat IAIN Bone. Apalagi, hasilnya bisa diekspor secara nyata.
“Ini merupakan hasil kerja sama yang luar biasa dari berbagai pihak yang tentunya keuletan, dedikasi, dan istiqamah dari pimpinan IAIN Bone dan Pak Syamsuriadi selaku pendamping program yang serius dan tidak main-main,” ungkap Dirjen yang juga guru besar UIN Bandung.
Hal senada disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Amien Suyitno. Menurutnya, capaian ini membuktikan bahwa PTKI tidak hanya andal di bidang akademis, riset, dan karya intelektual yang semakin diakui dunia, tetapi juga karya dampingan masyarakat yang mampu mengangkat ekonomi masyarakat sekitar.
“Ini patut diapresiasi, program yang berdampak pada peningkatan kualitas ekspor nasional dan berkontribusi bagi berbagai negara lainnya,” ungkap Direktur yang juga guru besar UIN Palembang.
Koordinator Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suwendi, yang hadir langsung dalam pelepasan ekspor itu, menyatakan bahwa IAIN Bone dan berbagai PTKI lainnya telah banyak melahirkan program produktif dalam pengabdian masyarakat.
Selain minyak nilam, IAIN juga Bone telah melakukan dampingan di bidang budi daya cabai, budi daya padi, kopi Sanrego, dan berbagai potensi pertanian lainnya. Belum lagi PTKI lainnya yang juga melakukan dampingan masyarakat di bidang perikanan, batik, dan lainnya.
“Karya-karya dampingan yang dilakukannya dibekali dengan berbagai pendekatan, seperti PAR (Participatory Action Research), ABCD (Asset Based Community Development), CBPR (Community Based Participatory Research), dan SL (Service Learning),” ungkap Suwendi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!