Program ANT: Menjaga Penyu Perancak Bali dengan Teknologi Inovatif
Jembrana, khususnya pantai Perancak dan sekitarnya, merupakan area peneluran utama penyu lekang (Lepidochelys olivacea) di Provinsi Bali. Untuk menjaga keberlangsungan penyu lekang, upaya konservasi telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat lokal sejak tahun 1990-an. Kesadaran kelompok lokal, yang diprakarsai oleh kelompok konservasi Kurma Asih pada tahun 1997, terus berkembang hingga kini. Yayasan WWF Indonesia bersama Indosat Ooredoo Hutchison mendukung peningkatan Community Based Tourism di Jembrana melalui kelompok Kurma Asih. Peningkatan ini meliputi kapasitas kelompok, produk, dan promosi paket ekoeduwisata seperti edukasi pelepasliaran tukik, pengamatan penyu bertelur, atraksi musik tradisional, wisata mangrove, dan program adopsi sarang.
Inovasi yang dikembangkan bersama Tim Robotec Udayana ini merupakan aplikasi pemantauan sarang penyu yang secara real-time memonitor suhu inkubasi sarang dan visual sarang. Dengan alat-alat yang dipasang untuk memungkinkan data pengukuran suhu dan perekaman visual sarang dapat divisualisasikan dalam bentuk grafis melalui situs Kurma Asih. Selain dapat memberikan pengalaman lebih kepada para pengadopsi sarang, teknologi ini juga secara ilmiah sangat penting fungsinya dalam memantau reproduksi penyu dan membuka peluang untuk studi ilmiah bagi peneliti atau akademisi yang tertarik meneliti kajian pengaruh suhu sarang terhadap bayi penyu (tukik) yang dihasilkan.
Penyu merupakan hewan reptil laut terancam punah yang jenis kelamin embrionya ditentukan oleh suhu lingkungan atau suhu sarangnya. Secara umum, suhu lebih hangat akan menghasilkan jenis kelamin betina sedangkan yang lebih sejuk menghasilkan jenis kelamin Jantan (Standora dan Spotila, 1985). Sehingga, dengan suhu bumi yang semakin memanas ini (kenaikan per tahun 0.8 °C ; NOAA 2022) maka kencenderungan jenis kelamin yang banyak dihasilkan adalah tukik berjenis kelamin betina (Booth, 2017). Ketidakseimbangan ini membuat populasi penyu semakin rentan terhadap ancaman eksternal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!