Polygon Bikepackers Escape 2025: Bukan Sekadar Event, Tapi “Sebuah Pelarian yang Difasilitasi”
“Jangan dikembalikan dulu! Sandera aja topinya!” seru salah satu teman saya. Kami langsung beraksi, seolah-olah topi itu adalah barang paling berharga yang harus ditahan. “Kalau mau topinya balik, tebus dulu dengan foto-foto kami!” kami menggoda fotografer itu dengan penuh tawa. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala, namun akhirnya setuju juga. “Jepret…jepret…jepret,” kamera mulai menangkap momen-momen kami yang konyol.
Kami pun berpose ala model, pura-pura kuat dan bahagia meski sebenarnya sudah mulai kelelahan. Tapi itulah keindahan dari perjalanan ini, meski tubuh lelah, hati tetap riang. Setelah beberapa kali difoto, akhirnya kami mengembalikan topinya, sambil mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk bertemu di tempat yang lebih indah lagi.
Namun, seperti halnya dalam hidup, karma datang tak terduga. Om Edy, yang belum ikut dalam kekocakan penyanderaan topi, sepertinya menjadi sasaran karma secara instan. Saat sarapan, dia kurang makan, sehingga saat bersepeda, fokusnya buyar. Dan tanpa sengaja, dia pun terjun bebas, tergelincir di jalur yang kami lewati. Lucunya, si fotografer yang sebelumnya menjadi “korban” kami kini menjadi saksi langsung insiden itu.
“Wah, karma itu datang secara instan!” dalam hati saya bergumam, sementara teman-teman lain tertawa geli. Si fotografer yang tadi kami kerjain pun tak tahan menahan tawa. Dia langsung mengambil gambar Om Edy yang terjatuh dalam pose ‘low battery’ yang sangat dramatis. Suasana makin kocak, dan kami semua tertawa lepas, merasa bahwa ini adalah salah satu momen paling epic yang akan kami kenang selamanya.
Momen-momen kocak semacam ini yang membuat perjalanan ini terasa lebih berarti. Tak hanya sekadar bersepeda dari titik A ke titik B, tapi perjalanan ini telah menjadi pelarian dari segala rutinitas dan kepenatan hidup. Lelucon, tawa, bahkan sedikit kejadian memalukan membuat segalanya terasa lebih hidup dan penuh warna.
Akhirnya, perjalanan kami mencapai titik akhir. Setelah melalui jalur yang penuh tantangan, suasana syahdu di sepanjang jalan, dan kekocakan yang tak ada habisnya, tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Desa Tinalah dan teman-teman baru yang sudah kami anggap seperti keluarga. Ada rasa berat hati meninggalkan momen-momen ini, tapi kami tahu, kenangan ini akan tetap hidup dalam cerita kami.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!