Polygon Bikepackers Escape 2025: Bukan Sekadar Event, Tapi “Sebuah Pelarian yang Difasilitasi”

ED
Kamis, 9 Oktober 2025 | 05:16 WIB
Bagikan
Polygon Bikepackers Escape 2025: Bukan Sekadar Event, Tapi “Sebuah Pelarian yang Difasilitasi”

Penulis Roni

TANGGAL 27 sampai 28 September 2025, Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo, Yogyakarta, menjadi saksi kegilaan yang luar biasa. Di tengah terik matahari Kulon Progo yang menyengat, kelompok kami, kloter Bandung, datang dengan semangat tinggi untuk ikut serta dalam acara Polygon Bikepackers Escape 2025. Bukan sekadar bersepeda, tapi lebih dari itu—sebuah pelarian, sebuah pencarian keseruan yang telah lama kami dambakan.

Ketika kami sampai di titik start, rasanya seperti menginjakkan kaki di dunia lain. Suasana ramai, orang-orang yang baru saja saling bertemu langsung akrab seperti sudah lama kenal. Mulanya, kami menjaga citra, menjaga jarak. “Ah, malu-malu dulu lah,” pikir kami. Tapi, ternyata, semakin lama semakin terasa keseruan yang menular. Kami mulai salaman, saling mengenal, dan tanpa disadari, suasana menjadi pecah. Kami semua langsung akrab, tawa dan canda pun mulai menghiasi perjalanan kami.

Jangan salah, meski kami tertawa, tantangan yang dihadapi tidak main-main. Jalur yang dilalui cukup menguras tenaga, dan panasnya Kulon Progo terasa seperti ujian kesabaran. “Aing mah, urang Bandung, kewalahan,” beberapa dari kami bercanda dengan napas tersengal-sengal. Namun, rasa lelah itu justru makin mempererat kebersamaan. Semakin terik matahari, semakin terasa betapa indahnya berbagi tawa dengan orang-orang yang sama-sama melaju menuju keseruan.

Malam pertama, acara menjadi lebih hidup. Ada suguhan musik live, sambil menikmati barbeque-an bersama. Meskipun sebagian besar di antara kami baru bertemu hari itu, suasana begitu hangat dan akrab. Tawa, cerita, dan canda mengalir begitu alami, dan semuanya terasa seperti pelarian dari rutinitas yang menjemukan.

Hari kedua menjadi puncak komedi dan kekocakan. Salah satu momen yang tak akan terlupakan adalah ketika kami sedang mengatasi tantangan terakhir. Tiba-tiba, topi milik seorang fotografer ganteng terbang tertiup angin dan mendarat tepat di depan kami. Kami pun saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Jangan dikembalikan dulu! Sandera aja topinya!” seru salah satu teman saya. Kami langsung beraksi, seolah-olah topi itu adalah barang paling berharga yang harus ditahan. “Kalau mau topinya balik, tebus dulu dengan foto-foto kami!” kami menggoda fotografer itu dengan penuh tawa. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala, namun akhirnya setuju juga. “Jepret…jepret…jepret,” kamera mulai menangkap momen-momen kami yang konyol.

Kami pun berpose ala model, pura-pura kuat dan bahagia meski sebenarnya sudah mulai kelelahan. Tapi itulah keindahan dari perjalanan ini, meski tubuh lelah, hati tetap riang. Setelah beberapa kali difoto, akhirnya kami mengembalikan topinya, sambil mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk bertemu di tempat yang lebih indah lagi.

Namun, seperti halnya dalam hidup, karma datang tak terduga. Om Edy, yang belum ikut dalam kekocakan penyanderaan topi, sepertinya menjadi sasaran karma secara instan. Saat sarapan, dia kurang makan, sehingga saat bersepeda, fokusnya buyar. Dan tanpa sengaja, dia pun terjun bebas, tergelincir di jalur yang kami lewati. Lucunya, si fotografer yang sebelumnya menjadi “korban” kami kini menjadi saksi langsung insiden itu.

“Wah, karma itu datang secara instan!” dalam hati saya bergumam, sementara teman-teman lain tertawa geli. Si fotografer yang tadi kami kerjain pun tak tahan menahan tawa. Dia langsung mengambil gambar Om Edy yang terjatuh dalam pose ‘low battery’ yang sangat dramatis. Suasana makin kocak, dan kami semua tertawa lepas, merasa bahwa ini adalah salah satu momen paling epic yang akan kami kenang selamanya.

Momen-momen kocak semacam ini yang membuat perjalanan ini terasa lebih berarti. Tak hanya sekadar bersepeda dari titik A ke titik B, tapi perjalanan ini telah menjadi pelarian dari segala rutinitas dan kepenatan hidup. Lelucon, tawa, bahkan sedikit kejadian memalukan membuat segalanya terasa lebih hidup dan penuh warna.

Akhirnya, perjalanan kami mencapai titik akhir. Setelah melalui jalur yang penuh tantangan, suasana syahdu di sepanjang jalan, dan kekocakan yang tak ada habisnya, tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Desa Tinalah dan teman-teman baru yang sudah kami anggap seperti keluarga. Ada rasa berat hati meninggalkan momen-momen ini, tapi kami tahu, kenangan ini akan tetap hidup dalam cerita kami.

"Seharusnya ada lagi, ya? Acara bikepackers selanjutnya, yang lebih ugal-ugalan!" teriak salah seorang teman saat kami bersiap untuk kembali ke Bandung. Meskipun capek, perasaan senang dan puas tak bisa disembunyikan.

Polygon Bikepackers Escape 2025 bukan hanya sebuah event bersepeda biasa. Ini adalah pelarian yang difasilitasi, kesempatan untuk lari dari rutinitas, merasakan kebersamaan, dan menciptakan kenangan yang akan selalu dikenang. Terima kasih, Polygon Bikepackers, atas acara yang tidak hanya menguji fisik, tapi juga mempererat tali persahabatan.

Sampai jumpa di event selanjutnya, dengan keseruan yang lebih gila dan cerita-cerita yang lebih kocak. Dari Bandung, kami akan terus menunggu dengan penuh semangat untuk petualangan berikutnya.

Bandung, Kamis, 9 September 2025

  • Tim roni.roni (Polygon Bikepackers Bandung), Apih @firman kelana sukma, @edy sudjono, @indra bantim, @irsan nasutio, @guru yudi, @heddy, @ceupon, @rizal faani, @pak topik, @om ade.yogjakarta, dan @ryan irfansyah.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.