PMI Sukabumi Gelar Media Safety for Journalist
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menggelar Media Safety for Journalist./visi.news/Andri.
VISI.NEWS | SUKABUMI - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menggelar Media Safety for Journalist yang bertujuan membekali para jurnalis dengan keterampilan dasar kemanusiaan, mulai dari pemahaman mendalam mengenai donor darah hingga praktek pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PMI pada Rabu (17/6/2026) diikuti para wartawan dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Pembicara dalam kegiatan ini yakni Ketua PMI Kabupaten Sukabumi, dr. Hondo Suwito dan Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Sukabumi, dr. M. Ricky Juliansyah.
Dalam pemaparannya, Ricky, menegaskan tidak ada rumah sakit yang tidak membutuhkan darah untuk menangani berbagai kondisi pasien diantaranya kecelakaan, persalinan, pasien Anemia atau kekurangan sel darah merah hingga pasien yang memiliki kelainan pada sistem darahnya, seperti penderita leukemia, kanker darah, talasemia.
"Jadi sangat banyak sekali atau sangat penting sekali. Darah itu kalau secara medis disamakan atau sama dengan organ," ujarnya.
Karena itu, Ricky menyambut baik pelaksanaan kegiatan Media Safety for Journalist yang melibatkan para jurnalis. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat terkait pentingnya donor darah dan transfusi darah.
Sementara itu, Hondo berharap kolaborasi antara PMI Kabupaten Sukabumi dan insan media dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman terkait keselamatan dan pertolongan pertama.
Ia menegaskan, edukasi mengenai pertolongan pertama tidak hanya penting bagi kalangan tertentu, tetapi perlu diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab, kecelakaan maupun kondisi darurat dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
"Kami juga berharap sosialisasi ini tidak hanya untuk kita, tapi untuk semua. Karena apa? Karena yang namanya pertolongan pertama dan kecelakaan bisa terjadi di mana saja, baik kita sendiri, orang lain, ataupun ada kejadian di tempat kerja," ujarnya.
Hondo juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan bagi mereka yang terlibat dalam penanganan bencana. Berdasarkan pengalamannya di lapangan, masih banyak pihak yang mengabaikan penggunaan alat pelindung diri seperti helm, pelampung, sepatu bot, dan sarung tangan saat bertugas.
"Kami yang sering di kebencanaan, sering lihat adalah begitu teman-teman turun, baik dari para pecinta alam, lembaga kemasyarakatan, kemudian media, dan masyarakat yang peduli terhadap kemanusiaan. Kadang-kadang kita lupa dengan safety, kita turun ke lapangan itu tidak menggunakan helm, tidak menggunakan pelampung, kemudian tidak menggunakan sepatu bot atau sarung tangan," jelasnya.
Menurut dia, keselamatan penolong harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai niat membantu korban justru berujung pada kondisi yang membahayakan diri sendiri sehingga penolong malah menjadi pihak yang membutuhkan pertolongan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!