Pertamina Perkuat Pasokan Energi Lewat Mitra AS
PT Pertamina (Persero) melakukan pertemuan dengan United States of America (US) Department of Energy (DOE) di Washington, DC./visi.news/Humas Pertamina.
VISI.NEWS | JAKARTA - Pertemuan PT Pertamina Persero dengan United States of America Department of Energy di Washington, DC, menjadi sinyal penguatan kerja sama energi Indonesia dengan Amerika Serikat.
Agenda ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto setelah kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada Februari 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita, serta sejumlah pejabat Department of Energy. Di antaranya Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas Elizabeth Urbanas, Deputy Assistant Secretary for International Cooperation Aleshia Duncan, dan Director of Asian Affairs Margaux Murali.
Secara konteks, pembahasan ini penting karena menyentuh beberapa isu strategis sekaligus. Pertamina dan Department of Energy membahas penguatan perdagangan energi, keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi migas, hingga peluang kolaborasi dalam pengembangan migas nonkonvensional. Isu tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan Indonesia menjaga pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyampaikan bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu mitra strategis Pertamina dalam mendukung ketahanan energi nasional. Indonesia, menurut dia, termasuk negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik, sehingga membutuhkan dukungan pasokan yang kuat dan stabil.
“Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan AS untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional,” jelas Oki dalam keterangannya dikutip, Senin (11/5/2026).
Saat ini, Amerika Serikat menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Pertamina. Lebih dari 70 persen impor liquefied petroleum gas Indonesia berasal dari negara tersebut, dengan volume sekitar 5 juta metric ton pada 2025. Untuk menjaga kepastian pasokan dan stabilitas harga domestik, Pertamina turut mendorong kerja sama jangka panjang melalui skema long term contract dengan produsen dan eksportir energi asal Amerika Serikat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!