Perpecahan Politik yang Artifisial: Bagaimana Perdebatan Imigrasi di Prancis Menyembunyikan Realitas Sosial
Dengan reformasi undang-undang setiap dua tahun rata-rata, ditambah liputan media harian, retorika anti-imigrasi menjadi dominan. Isu ini terus digunakan untuk menghidupkan kembali konflik kiri-kanan, bukan untuk menjawab kebutuhan publik.
Contoh terbaru: Sebuah petisi dari tokoh sayap kanan Philippe De Villiers menyerukan referendum tentang imigrasi karena kekhawatiran bahwa Prancis akan "mengganti populasi... gaya hidup... peradaban".
Petisi ini dipromosikan oleh media konservatif seperti CNews, Europe 1, dan Valeurs Actuelles, mengumpulkan 1,5 juta tanda tangan — namun datanya diragukan. Situs penandatanganan tidak aman, memungkinkan penandatanganan ganda bahkan oleh robot. Selain itu, penandatangan menyetujui penggunaan data pribadi mereka untuk iklan dan newsletter.
Petisi ini tampaknya hanyalah kampanye pemasaran politik untuk mobilisasi simpatisan.
Kesimpulan
Pengalaman Prancis menunjukkan bagaimana institusi yang tidak efektif dan strategi politik partisan telah menghambat pengelolaan isu imigrasi yang kompleks. Hasilnya adalah medan pertempuran kiri-kanan yang sangat memecah belah, meski pada kenyataannya masyarakat justru menunjukkan konsensus yang relatif dalam hal imigrasi.***
- Thomas Lacroix adalah peneliti di Pusat Studi Internasional, Universitas Sciences Po, Paris.
- Artikel ini awalnya diterbitkan di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!