Perekonomian Indonesia Dihantam Masalah Bertubi-Tubi, Daya Beli Masyarakat Tertekan
Harga bahan pangan yang tinggi berkontribusi pada inflasi yang signifikan. Inflasi bahan pangan bergejolak (volatile food) per Mei 2024 mencapai 8,14% secara tahunan, jauh di atas inflasi umum yang berada di level 2,84% year on year (yoy). Kenaikan harga pangan ini tidak diimbangi oleh kenaikan pendapatan masyarakat. Kenaikan gaji aparatur sipil negara (ASN) hanya 6,5% selama periode 2019-2024, sementara upah minimum regional (UMR) rata-rata naik 4,9% pada periode yang sama.
Tauhid Ahmad, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bahwa pendapatan masyarakat tidak cukup untuk menutupi kenaikan harga pangan, sehingga konsumsi tidak meningkat.
Tekanan pada Tabungan Masyarakat
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat terpaksa menggunakan tabungan mereka. Data Mandiri Spending Index per Mei 2024 menunjukkan tabungan golongan masyarakat miskin dan kelas menengah terus tertekan. Sebaliknya, tabungan orang kaya meningkat meskipun mereka terus berbelanja. Indeks tabungan kelas menengah turun dari sekitar 100 menjadi hanya 94, sementara indeks tabungan kelas bawah hanya 41,3 dari kisaran 80.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Sektor tekstil menjadi salah satu yang paling terdampak oleh kebijakan pemerintah. Permendag Nomor 8 Tahun 2024 menyebabkan peningkatan PHK di sektor ini. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmaja, mencatat bahwa hingga Mei 2024, sekitar 10.800 pekerja di industri tekstil terkena PHK. Angka ini naik 66,67% dibandingkan tahun sebelumnya.
Respons Pemerintah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa koordinasi kebijakan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ia berjanji pemerintah akan terus melakukan sinkronisasi kebijakan untuk menghadapi tekanan eksternal dan memastikan kesejahteraan masyarakat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!