Perekonomian Indonesia Dihantam Masalah Bertubi-Tubi, Daya Beli Masyarakat Tertekan
VISI.NEWS | JAKARTA - Perekonomian Indonesia tengah menghadapi tantangan berat. Berbagai masalah ekonomi menghantam masyarakat, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) di banyak sektor, lonjakan harga bahan pangan, hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di atas Rp 16.000.
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Mata uang Garuda terus mengalami pelemahan. Data Refintiiv menunjukkan, pada pembukaan perdagangan Rabu (12/6/2024), rupiah melemah 0,09% ke posisi Rp16.300/US$. Pelemahan ini telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, sejak Senin lalu. Melemahnya rupiah menyebabkan harga barang dalam negeri, terutama yang bahan bakunya diimpor, menjadi lebih mahal.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), M. Faisal, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga barang konsumsi dan bahan baku impor naik. "Otomatis ini akan menekan daya beli masyarakat dan daya saing industri," kata Faisal.
Kenaikan Harga Bahan Pangan
Tidak hanya nilai tukar yang melemah, harga bahan pangan utama seperti beras juga naik. Pemerintah masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk beras. Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras, serta menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium.
Tahun ini, Indonesia menetapkan kuota impor beras sebesar 4.045.761 ton, gula kristal mentah sebanyak 830 ribu ton, bawang putih 665.025 ton, daging lembu 270.352 ton, serta jagung untuk bahan baku dan pakan mencapai sekitar 1,95 juta ton.
Inflasi dan Daya Beli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!