IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Dorong Perbaikan Tata Niaga Impor Baja, Adisatrya Sulisto: Perlu Komitmen dan Langkah Serius dari Pemerintah

Desi Rossilawati
Selasa, 30 September 2025 | 22:25 WIB
Bagikan
Dorong Perbaikan Tata Niaga Impor Baja, Adisatrya Sulisto: Perlu Komitmen dan Langkah Serius dari Pemerintah

VISI.NEWS | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, menegaskan perlunya langkah serius dari Pemerintaj untuk segera membenahi tata niaga impor baja dan memperkuat industri baja nasional melalui hilirisasi produk baja dalam rangka Penyelamatan Industri Baja Nasional.

Hal ini ia sampaikan kepada wartawan usai Rapat Dengar Pendapat bersama jajaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Selasa (30/9/2025). Adisatrya menyoroti beban utama Krakatau Steel yang masih berkutat pada persoalan utang. Dari total utang perusahaan, sekitar 30 persen berasal dari swasta dan sudah berhasil direstrukturisasi dengan potongan pokok (haircut) yang signifikan. Namun, sisa utang mayoritas berada di bank-bank Himbara yang tidak memungkinkan dilakukan pemotongan karena berpotensi merugikan negara, bahkan menyulitkan perusahaan memperoleh tambahan modal dari perbankan lain dengan status kolektabilitas Krakatau Steel yang kini turun ke level 2. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Komisi VI DPR RI berkomitmen mendukung pelaksanaan dan percepatan Restrukturisasi Utang Krakatau Steel dan penyediaan modal kerja oleh Danantara untuk penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi keberlanjutan usaha PTKS. Selain persoalan utang, Adisatrya juga menyoroti derasnya impor baja murah asal Cina yang membanjiri pasar domestik dengan harga yang tidak masuk akal. Kondisi ini membuat produsen baja nasional kewalahan bersaing. “Tidak adil jika pedagang atau trader bermodalkan ruko, mesin fax, dan komputer bisa mengimpor jutaan ton baja, lalu membanjiri pasar nasional. Sementara Krakatau Steel dan produsen baja lainnya yang punya fasilitas produksi dan mempekerjakan banyak tenaga kerja justru semakin tertekan,” tegasnya. Ia menambahkan, bahkan salah satu perusahaan baja internasional besar terpaksa menutup pabriknya di Surabaya akibat ketatnya persaingan dengan produk impor. Situasi ini menjadi peringatan serius bagi Krakatau Steel yang fokus operasinya hanya di Indonesia. Legislator PDI Perjuangan tersebut juga memastikan DPR RI, khususnya Komisi VI, akan mendorong Pemerintah dan perbankan nasional agar memberi dukungan penuh dalam memperbaiki tata kelola industri baja nasional. “Perbaikan tata niaga impor baja dinilai menjadi kunci agar Krakatau Steel dapat kembali sehat dan berdaya saing di pasar domestik maupun internasional,” ujar Adisatrya. Menurut Adisatrya, Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Krakatau Steel sebagai BUMN memiliki tujuan yang sama dengan Komisi VII DPR RI yang membidangi industri dan energi, sehingga usulan pembentukan panitia khusus (Pansus) untuk Krakatau Steel yang datang dari Komisi VII disebutnya selaras dengan kepentingan bersama, yakni menyelamatkan industri baja nasional. “Kami mendukung segala macam upaya ini, baik di Komisi VII maupun di Komisi VI. Tujuannya sama, untuk memperbaiki kondisi PT Krakatau Steel dan juga industri baja nasional,” tutupnya. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.