Perang Timur Tengah Meluas, Serangan Israel–AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Kepanikan Global
Pemerintah AS menutup sejumlah kedutaannya di kawasan dan memerintahkan staf non-esensial serta keluarga mereka untuk meninggalkan sebagian besar wilayah Timur Tengah.
Iran menyebut perang ini sebagai serangan tanpa provokasi.
Penasihat Garda Revolusi, Ebrahim Jabari, mengatakan kepada media Iran, “Kami sudah memperingatkan musuh, jika pusat-pusat utama kami diserang, maka kami akan menghantam semua pusat ekonomi di kawasan.”
Teheran juga menembakkan rudal dan drone ke negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, serta memperketat pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Qatar menghentikan produksi gas alam cair, sementara kapal tanker memilih berlabuh demi menghindari risiko. Biaya sewa kapal tanker melonjak hampir empat kali lipat dalam sepekan terakhir.
Harga minyak mentah dunia naik sekitar 5 persen, sementara harga gas alam di Eropa melonjak hingga 40 persen. Bursa saham di Wall Street melemah, mengikuti penurunan tajam di pasar Asia dan Eropa.
Korban jiwa di Iran terus bertambah. Pemerintah menyebut jumlah korban tewas mencapai 787 orang. Di antaranya terdapat 165 siswi yang tewas ketika sekolah mereka terkena bom pada hari pertama perang.
Seorang pegawai bank berusia 32 tahun di Teheran, yang memperkenalkan diri sebagai Bijan, menggambarkan situasi mencekam di ibu kota.
“Sampai kapan ini akan berlangsung? Di mana tempat perlindungan? Di mana pemerintah?” ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!