Perang Timur Tengah Meluas, Serangan Israel–AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Kepanikan Global

ED
Rabu, 4 Maret 2026 | 08:06 WIB
Bagikan
Perang Timur Tengah Meluas, Serangan Israel–AS ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak dan Kepanikan Global

VISI.NEWS | BANDUNG Konflik di Timur Tengah kian meluas setelah Israel dan Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target strategis di Iran pada Selasa waktu setempat. Serangan balasan Iran menyasar kepentingan Amerika di kawasan Teluk serta memperluas ketegangan hingga ke Lebanon. Dampaknya terasa cepat: harga minyak melonjak, pasar saham global merosot, dan jalur energi dunia terganggu.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan militer AS telah menghantam berbagai target angkatan laut dan udara Iran.

“Hampir semua target utama sudah kami lumpuhkan,” ujarnya kepada wartawan.

Trump juga membela keputusannya melancarkan operasi militer tersebut. Ia mengatakan perintah serangan dikeluarkan karena ia merasa Iran akan menyerang setelah negosiasi program nuklir mengalami kebuntuan.

Ketika ditanya siapa yang ia inginkan memimpin Iran selanjutnya, Trump menjawab, “Sebagian besar orang yang kami pertimbangkan untuk itu sudah tewas.”

Sumber yang mengetahui rencana perang Israel menyebut operasi militer awalnya dirancang berlangsung dua pekan, namun daftar target disebut tercapai lebih cepat dari perkiraan. Dalam gelombang serangan pertama pada Sabtu, sejumlah pemimpin senior Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama 37 tahun.

Ledakan mengguncang Teheran sepanjang hari. Israel dilaporkan menyerang kantor penyiaran negara dan area sekitar Bandara Mehrabad, serta mengklaim telah menghantam fasilitas pengembangan nuklir bawah tanah di ibu kota. Di kota suci Qom, bangunan yang menampung Majelis Ahli—lembaga yang bertugas memilih pemimpin tertinggi—dilaporkan hancur akibat serangan udara.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone ke sejumlah fasilitas Amerika di kawasan. Kedutaan Besar AS di Arab Saudi dan Kuwait menjadi sasaran, sementara asap terlihat mengepul di dekat Konsulat AS di Dubai. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan sebuah area parkir terkena serangan, namun seluruh personel dalam kondisi aman.

Pemerintah AS menutup sejumlah kedutaannya di kawasan dan memerintahkan staf non-esensial serta keluarga mereka untuk meninggalkan sebagian besar wilayah Timur Tengah.

Iran menyebut perang ini sebagai serangan tanpa provokasi.

Penasihat Garda Revolusi, Ebrahim Jabari, mengatakan kepada media Iran, “Kami sudah memperingatkan musuh, jika pusat-pusat utama kami diserang, maka kami akan menghantam semua pusat ekonomi di kawasan.”

Teheran juga menembakkan rudal dan drone ke negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, serta memperketat pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Qatar menghentikan produksi gas alam cair, sementara kapal tanker memilih berlabuh demi menghindari risiko. Biaya sewa kapal tanker melonjak hampir empat kali lipat dalam sepekan terakhir.

Harga minyak mentah dunia naik sekitar 5 persen, sementara harga gas alam di Eropa melonjak hingga 40 persen. Bursa saham di Wall Street melemah, mengikuti penurunan tajam di pasar Asia dan Eropa.

Korban jiwa di Iran terus bertambah. Pemerintah menyebut jumlah korban tewas mencapai 787 orang. Di antaranya terdapat 165 siswi yang tewas ketika sekolah mereka terkena bom pada hari pertama perang.

Seorang pegawai bank berusia 32 tahun di Teheran, yang memperkenalkan diri sebagai Bijan, menggambarkan situasi mencekam di ibu kota.

“Sampai kapan ini akan berlangsung? Di mana tempat perlindungan? Di mana pemerintah?” ujarnya.

“Setiap malam saya dan istri bersembunyi di ruang bawah tanah. Kota ini kosong. Di mana-mana ada asap dan darah.”

Firuzeh Seraj, warga Teheran lainnya, mengaku takut membawa putrinya yang berusia 10 tahun untuk menjalani cuci darah setelah sebuah rumah sakit terkena serangan.

“Dunia, apakah kalian melihat? Mereka membunuh kami. Dengarkan suara kami,” katanya sambil menangis.

Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang bersekutu dengan Iran meluncurkan serangan ke Israel. Israel membalas dengan serangan udara dan memperkuat posisi pasukan darat di wilayah selatan. Otoritas setempat melaporkan puluhan korban jiwa.

Sementara itu di Israel, sirene peringatan serangan udara berbunyi berulang kali, memaksa jutaan warga bergegas ke tempat perlindungan. Sejak Sabtu, serangan Iran dilaporkan menewaskan 10 orang di Israel.

Meski pejabat Israel menyatakan ingin menggulingkan pemerintahan Iran, pejabat AS menegaskan tujuan utama operasi adalah menghancurkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri. Trump bahkan memperingatkan warga Iran agar berhati-hati jika ingin melakukan protes.

“Jika kalian ingin turun ke jalan, jangan sekarang. Situasinya sangat berbahaya,” ujarnya.

Dengan jalur energi global terganggu, transportasi udara lumpuh, dan konflik meluas lintas negara, perang ini bukan lagi sekadar bentrokan regional. Dunia kini menghadapi ancaman krisis energi baru dan ketidakpastian geopolitik yang bisa berdampak luas terhadap stabilitas global. @kanaya

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.