Peran Strategi "Zero Trust" dalam Memerangi "Ransomware"
VISI.NEWS | SYDNEY - Strategi Zero Trust telah menjadi kerangka kerja yang paling dikenal di dunia keamanan siber. Tim SecOps mengemukakan strategi yang "tidak memercayai siapa pun" (trust no-one) ini guna mencegah eskalasi risiko kejahatan siber. Strategi ini juga turut memantau aktor-aktor di balik ancaman siber pada seluruh jaringan. Bahkan, riset Gigamon mengungkap, 70% eksekutif TI sepakat bahwa Zero Trust meningkatkan strategi TI.
Singkatnya, pendekatan keamanan siber ini menghapus implicit trust yang kerap diberikan pada arus penggunaan internal di dalam jaringan. Pola pikir yang memprioritaskan keamanan siber ini juga menghasilkan efisiensi bisnis: 87% tim TI menilai, produktivitas telah meningkat sejak pendekatan Zero Trust diterapkan, serta sistem berjalan kian cepat dan downtime berkurang sebab aksi pembobolan jaringan (breach) pun menurun.
Namun, lanskap ancaman siber terus berkembang. Kini, ransomware adalah salah satu ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan di seluruh dunia, dan banyak pihak menjadi korban dalam serangan siber yang berbahaya tersebut. Jumlah malware ini melonjak sebesar 82% pada 2021, bahkan semakin meningkat. Sebanyak 82% perusahaan di Inggris telah menjadi korban dalam serangan ransomware, dan membayar tebusan kepada pihak peretas demi memperoleh kembali datanya. Maka, mampukah Zero Trust Architecture (ZTA) membantu kalangan perusahaan melindungi diri dari salah satu ancaman terbesar di lanskap siber masa kini?
Apa makna Zero Trust saat ini?
Ketika memercayai sesuatu, kita harus selalu memiliki alasan rasional di baliknya. Namun, hal tersebut tak selalu terjadi di dunia TI. Sebaliknya, selama bertahun-tahun, tim TI menggunakan perkiraan dalam mengukur kepercayaan. Pasalnya, mekanisme yang lama untuk mengukur kepercayaan tidak bersifat praktis. Ketika sebuah perusahaan memiliki sistem, pengguna yang merupakan tenaga kerja atau jaringan belum terlindungi. Langkah ini bukanlah cara mengukur kepercayaan, namun perkiraaan yang kerap kali dibuat berdasarkan asumsi. Saat asumsi tentang kepercayaan gagal, risiko pun muncul. Ketika aktor di balik ancaman siber menilai asumsi tersebut sebagai bagian dari strategi keamanan siber yang dijalankan perusahaan, mereka lalu memanfaatkannya untuk menghindari pengendalian jaringan, dan menyebabkan gangguan bagi keamanan siber.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!