Peran Sentral Ibu dalam Ekonomi Sirkular Persampahan
"Sekarang sudah banyak juga perusahaan-perusahaan, misalnya, yang bisa mengambil sifatnya 'electronic waste.' Tapi yang terpenting bagaimana kita bisa mengelola dari rumah sebelum dibawa transporter," imbuhnya.
Selain sampah organik dan plastik, Indonesia pun memiliki masalah soal sampah makanan atau food waste. Saat ini, Indonesia berpredikat sebagai pembuang sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi.
Potensi Ekonomi
Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2020, sekitar 50,8 persen rumah tangga di Indonesia tidak memilah sama sekali sampah. Sementara 48,2 persen rumah tangga sudah mulai memilah.
Dari hasil survei, sekitar 79 persen rumah tangga merasa repot untuk memilah sampah, 17 persen beranggapan sampah akan tercampur kembali di TPS/ TPA, 3 persen menganggap tidak ada manfaat, dan alasan lainnya sebanyak 1 persen.
"Barangkali budaya tidak ingin repot ini bagaimana sekarang hasil webinar ini, ibu-ibu bisa mempengaruhi atau menjadi agent of change. Yang tidak ingin repot kita jadikan mereka-mereka ini bisa mengubah mindset bahwa kita harus memilah sampah rumah tangga," ucap Setiawan.
"Sampah yang telah dipilah dengan baik dapat memberi keuntungan dan menciptakan ekonomi sirkular dari pengolahan sampah," tambahnya.
Setiawan mengatakan, potensi ekonomi dari pengelolaan sampah terbilang besar. Ia pun mencontohkan hasil pengelolaan sampah plastik bisa menjadi campuran cairan aspal. Sebanyak 3-5 ton sampah plastik dapat diolah menjadi jalan sepanjang 1 kilometer.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!