Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Mulai Kejar ROI

ED
PN
Senin, 7 September 2026 | 15:02 WIB
Bagikan
Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Mulai Kejar ROI

VISI.NEWSPeran konsultan public relations (PR) di Indonesia mulai bergeser dari sekadar membantu perusahaan mendapatkan publikasi menuju fungsi yang lebih strategis, berbasis data, dan terukur. Perusahaan kini tidak hanya membutuhkan eksposur media, tetapi juga mengharapkan dukungan dalam membangun reputasi, membaca dinamika pasar, mengelola pemangku kepentingan, hingga memberikan dampak nyata terhadap organisasi.

 Perubahan tersebut tercermin dalam studi Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bertajuk “Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026”.

 Studi yang melibatkan 24 perusahaan dari 19 sektor tersebut menunjukkan hampir seluruh responden membutuhkan layanan manajemen reputasi. Sementara itu, sekitar 75 persen responden membutuhkan market intelligence, sekitar 60 persen membutuhkan integrated marketing communication, dan sekitar 35 persen membutuhkan dukungan advokasi.

 Yang menarik, sekitar 25 persen responden mulai menempatkan Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir yang diharapkan dari kegiatan komunikasi dan PR.

 Temuan itu menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap industri PR semakin berkembang. Keberhasilan pekerjaan konsultan tidak lagi cukup dinilai dari jumlah pemberitaan, jangkauan audiens, atau eksposur yang dihasilkan, tetapi mulai dikaitkan dengan outcome dan dampak yang lebih konkret bagi organisasi.

 Meski demikian, praktik pengukuran komunikasi di kalangan perusahaan belum sepenuhnya seragam. Studi APPRI mencatat hanya 36 persen responden yang melakukan pengukuran komunikasi secara berkala.

 Sebanyak 32 persen responden baru melakukan pengukuran ketika proyek atau kampanye tertentu berlangsung. Sementara itu, 32 persen lainnya belum melakukan pengukuran terhadap keberhasilan kegiatan komunikasi yang dijalankan.

 Di tengah kondisi tersebut, mulai muncul dorongan untuk menggeser pengukuran dari sekadar output menuju outcome dan impact. Sebanyak 37 persen responden mengaku telah menggunakan kerangka pengukuran yang dianjurkan Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC).

 Sementara itu, 25 persen responden menyatakan ROI sebagai dampak akhir yang diharapkan organisasi dari kegiatan komunikasi dan PR.

 Ketua Umum APPRI Sari Soegondo mengatakan perkembangan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri PR. Menurutnya, pengguna jasa konsultan kini menginginkan hasil yang lebih jauh daripada sekadar output komunikasi.

 “Saat ini kita bekerja dalam ekosistem komunikasi yang sangat dinamis, dimana pengguna jasa konsultan PR menuntut pencapaian lebih jauh dari hanya sekadar output. Studi APPRI menyebutkan bahwa 25% pengguna jasa menginginkan Return on Investment sebagai bagian dari indikator keberhasilan kerja PR,” kata Sari.

 Menurut Sari, tuntutan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kebutuhan untuk menghubungkan aktivitas PR dengan hasil konkret bagi organisasi. Karena itu, industri perlu memiliki metode pengukuran yang relevan dan disepakati sejak awal antara konsultan dan pengguna jasa.

 APPRI sendiri dalam periode kepengurusan 2024–2027 telah merencanakan reformasi panduan pengukuran keberhasilan kerja PR dengan mengacu pada kerangka kerja yang dianjurkan AMEC.

 Langkah tersebut dinilai penting karena pekerjaan PR semakin berhubungan dengan berbagai aspek bisnis dan organisasi. Praktik PR tidak lagi berdiri sendiri sebagai aktivitas publikasi, tetapi harus mampu terintegrasi dengan komunikasi korporat, digital, data, kreativitas, pemasaran, pengelolaan isu, hingga pengambilan keputusan strategis.

 Kompleksitas tersebut semakin terlihat dari perubahan lanskap pembentukan reputasi perusahaan. Persepsi publik kini tidak hanya dibentuk oleh pemberitaan media, tetapi juga percakapan di media sosial, komunitas, pengalaman konsumen dan karyawan, konten kreator, regulator, serta berbagai kelompok pemangku kepentingan.

 Laporan We Are Social dan Meltwater mengenai tren digital dan media sosial Indonesia 2026 mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, setara dengan 62,9 persen populasi. Jumlah tersebut meningkat sekitar 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 Masyarakat Indonesia juga menghabiskan rata-rata 21 jam 50 menit per minggu untuk media sosial, termasuk konsumsi video online. Angka itu setara dengan lebih dari tiga jam per hari. Dalam sebulan, masyarakat Indonesia rata-rata mengakses 7,7 platform media sosial.

 Kondisi tersebut membuat perusahaan menghadapi lingkungan reputasi yang semakin cepat dan terfragmentasi. Informasi dapat muncul dan menyebar dalam hitungan menit, sementara sumber pengaruh terhadap persepsi publik semakin beragam.

 Aspek kepercayaan juga menjadi semakin kompleks. Edelman Trust Barometer 2026 menunjukkan bahwa di antara responden yang mempercayai food and lifestyle influencer, sebanyak 62 persen menyatakan akan mempercayai atau mempertimbangkan mempercayai perusahaan yang sebelumnya tidak mereka percaya apabila perusahaan tersebut didukung influencer yang mereka percayai.

 Pada kelompok responden yang mempercayai financial influencer, angkanya mencapai 57 persen.

 Riset yang sama juga menunjukkan misinformasi menjadi salah satu faktor yang dinilai memengaruhi kepercayaan terhadap orang dan institusi dalam lima tahun terakhir. Faktor tersebut disebut oleh 50 persen responden global. Sementara perkembangan platform generative AI disebut oleh 37 persen responden.

 Situasi ini membuat pekerjaan PR semakin membutuhkan kemampuan membaca data dan percakapan publik secara cepat. Konsultan tidak cukup hanya mengetahui apa yang diberitakan media, tetapi juga harus memahami mengapa sebuah isu berkembang, siapa saja pihak yang memengaruhinya, bagaimana persepsi publik terbentuk, serta risiko yang mungkin muncul bagi organisasi.

 Sari menilai berbagai disiplin komunikasi juga perlu diarahkan menuju tujuan strategis yang sama.

 “Media relations, komunikasi korporat, digital, data, kreativitas, dan distribusi pesan perlu bekerja menuju tujuan strategis yang sama. Namun, pendekatan yang integral tetap harus dilandasi kompetensi, etika, transparansi, dan metode pengukuran yang jelas,” ujarnya.

 Perubahan kebutuhan klien tersebut turut mendorong munculnya model konsultansi yang menggabungkan kemampuan PR strategis dengan digital, media, kreatif, data, dan marketing.

 Salah satu contoh pendekatan tersebut terlihat pada pembentukan Prologue, strategic communications consultancy yang menggabungkan konsultan senior PR dengan profesional dari bidang media planning and buying, digital marketing, KOL dan creator strategy, creative development, analytics, serta technology-driven business transformation.

 Sebagian konsultan senior Prologue sebelumnya memiliki pengalaman profesional di lingkungan Fortuna PR atau Fortune PR sebelum operasi divisi public relations tersebut dihentikan. Prologue menegaskan bahwa perusahaan tersebut bukan kelanjutan korporasi maupun perubahan nama dari agency tersebut.

 Pengalaman yang dibawa para profesional merupakan pengalaman individual di berbagai bidang, mulai dari media relations, crisis communications, corporate reputation, public affairs, CSR, stakeholder engagement, hingga komunikasi pada sektor yang memiliki tingkat risiko reputasi dan regulasi tinggi.

 CEO Prologue Indonesia Dody Siregar mengatakan integrasi berbagai kemampuan komunikasi bukan semata-mata persoalan menggabungkan sebanyak mungkin layanan dalam satu perusahaan.

 Menurut dia, hal yang lebih penting adalah memastikan seluruh aktivitas komunikasi dibangun berdasarkan pemahaman yang sama terhadap bisnis, stakeholder, serta risiko yang dihadapi organisasi.

 “Persoalannya bukan apakah perusahaan harus memilih PR atau digital, earned media atau paid media. Persoalannya adalah apakah riset, reputasi, kreativitas, distribusi, dan evaluasi dibangun berdasarkan satu pemahaman mengenai bisnis, stakeholder, dan risiko,” kata Dody.

 Kebutuhan terhadap integrasi tersebut juga tercermin dari perkembangan belanja media di Indonesia. We Are Social memperkirakan total belanja iklan Indonesia pada 2025 mencapai US$6,97 miliar atau meningkat 5,3 persen secara tahunan.

 Dari angka tersebut, sekitar 52 persen atau US$3,64 miliar dialokasikan ke kanal digital. Belanja iklan media sosial tumbuh 11,3 persen, sementara influencer marketing meningkat 14,4 persen.

 Meski demikian, integrasi komunikasi tidak berarti menghilangkan batas antara fungsi editorial dan komersial. Dody menekankan pentingnya menjaga independensi pemberitaan, transparansi konten berbayar, serta kejelasan hubungan antara perusahaan dan kreator.

 “Integrasi berarti setiap kanal memiliki peran yang berbeda, tetapi bekerja berdasarkan strategi dan tujuan yang sama,” ujarnya.

 Di sisi lain, perkembangan teknologi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan praktisi PR. Pengalaman dan kemampuan membangun hubungan tetap menjadi fondasi, tetapi kini harus dilengkapi dengan penguasaan data, teknologi, kecerdasan buatan, analitik, dan kemampuan strategic advisory.

 PR Director Prologue Adam Rinaldi mengatakan pengalaman profesional tetap penting dalam pekerjaan PR strategis. Namun, pengalaman tersebut harus terus diuji dan diperbarui agar mampu menjawab perubahan lingkungan bisnis.

 “Ketika sebuah institusi berhenti beroperasi, pengetahuan dan professional judgment orang-orang di dalamnya tidak otomatis ikut hilang. Namun, pengalaman masa lalu juga tidak cukup apabila hanya menjadi nostalgia. Pengalaman harus diuji kembali, dilengkapi data, dan dipertemukan dengan kompetensi baru,” kata Adam.

 Salah satu kompetensi yang berkembang pesat adalah pemanfaatan artificial intelligence atau AI. Teknologi tersebut mulai digunakan untuk mendukung berbagai pekerjaan, seperti riset, monitoring, identifikasi pola, pemetaan percakapan, analisis data, hingga pengembangan early warning system.

 AI dapat membantu konsultan memproses informasi dalam jumlah besar dan menemukan pola secara lebih cepat. Namun, interpretasi terhadap konteks, kepentingan stakeholder, risiko, etika, serta konsekuensi sebuah keputusan tetap membutuhkan penilaian manusia.

 Atas dasar itu, Prologue mengembangkan pendekatan “Human Wisdom + AI Intelligence”, yakni menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan professional judgment.

 Perkembangan tersebut sejalan dengan temuan studi APPRI yang menunjukkan bahwa teknologi, data, dan inovasi menjadi faktor penting dalam perubahan industri PR. Konsultan juga dituntut meningkatkan kemampuan strategic advisory agar dapat memberikan nilai yang lebih besar kepada klien.

 Di tengah berbagai perubahan tersebut, prospek industri PR justru dinilai tetap positif. Studi APPRI mencatat 52 persen responden sangat optimistis terhadap pertumbuhan sektor PR dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Sebanyak 36 persen lainnya menyatakan optimistis.

 Sementara itu, 10 persen responden bersikap netral dan hanya 2 persen yang menyatakan kurang optimistis.

 Optimisme tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan terhadap manajemen reputasi, kompleksitas isu dan krisis, perkembangan teknologi serta data, dan meningkatnya tuntutan regulasi, transparansi, serta akuntabilitas publik.

 APPRI mencatat 41 persen responden melihat tingginya kebutuhan manajemen reputasi sebagai faktor pendorong pertumbuhan industri. Sebanyak 29 persen mengaitkannya dengan meningkatnya kompleksitas isu dan krisis.

 Kemudian, 18 persen melihat perkembangan teknologi dan data sebagai faktor pendorong, sedangkan 12 persen lainnya menilai regulasi, transparansi, dan tuntutan akuntabilitas publik turut memperkuat kebutuhan terhadap layanan PR.

 Namun, optimisme tersebut juga dibarengi tuntutan agar industri melakukan peningkatan kapasitas. Konsultan PR dinilai perlu memperkuat diferensiasi, inovasi, pemanfaatan teknologi, kemampuan strategic advisory, serta sistem pengukuran dampak.

 Tanpa perubahan tersebut, persaingan industri berpotensi kembali bertumpu pada harga dan jumlah output, bukan pada kualitas strategi maupun dampak yang diberikan kepada klien.

 Bagi perusahaan, perubahan ini menunjukkan bahwa konsultan PR semakin dituntut menjadi mitra strategis. Kemampuan menghasilkan publikasi tetap relevan, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun kepercayaan, mengelola reputasi, membaca perubahan pasar, mengantisipasi risiko, dan mendukung tujuan organisasi.

 Dody menegaskan bahwa tantangan terbesar industri komunikasi ke depan bukan sekadar menyediakan semakin banyak layanan dalam satu perusahaan, melainkan menghubungkan berbagai kemampuan tersebut sehingga menghasilkan keputusan yang relevan bagi organisasi.

 “Pada akhirnya, tantangan industri komunikasi bukan menambah semakin banyak layanan di bawah satu atap. Tantangannya adalah menghubungkan reputasi, data, kreativitas, teknologi, dan business judgment menjadi keputusan yang membantu organisasi mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan,” tutup Dody.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.