IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Pensiun Bisa Bikin Bahagia atau Stres? Penelitian Ungkap Faktanya

Desi Rossilawati
Kamis, 18 September 2025 | 11:30 WIB
Bagikan
Pensiun Bisa Bikin Bahagia atau Stres? Penelitian Ungkap Faktanya

VISI.NEWS | BANDUNG - Pensiun sering dianggap sebagai gerbang menuju hidup yang lebih santai. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan mental ternyata tidak sama bagi semua orang. Ada yang merasa lebih ringan, ada yang justru merasa kehilangan arah, bahkan ada yang mengalami penurunan kesejahteraan setelah euforia awal mereda.

Penelitian ini dipimpin oleh Xuefei Li dari University of Edinburgh’s School of Philosophy, Psychology and Language Sciences. Timnya menganalisis 1.538 orang dewasa dari survei tahunan di Belanda selama 17 tahun. Mereka memantau kondisi mental peserta lima setengah tahun sebelum dan sesudah pensiun.

Keunggulan studi ini adalah menggunakan panel acak rumah tangga, sehingga hasilnya lebih mewakili kondisi pensiunan pada umumnya, bukan hanya relawan tertentu.

Menariknya, para peneliti tidak hanya membandingkan kondisi sebelum dan sesudah pensiun secara sederhana. Mereka memetakan fase-fase transisi pensiun untuk melihat siapa yang membaik, siapa yang stagnan, dan siapa yang justru menurun.

Bagaimana Kesehatan Mental Diukur?

Para peneliti menggunakan MHI-5 (Mental Health Inventory), sebuah instrumen singkat berisi lima pertanyaan yang mengukur kesejahteraan psikologis, gejala depresi, dan kecemasan.

Mereka menerapkan model kurva pertumbuhan bertahap (piecewise growth curve model) untuk mendeteksi perubahan cepat di tahun pensiun dan pola jangka panjang sesudahnya.

“Pendekatan ini memungkinkan kami melihat apakah peningkatan di tahun pensiun bertahan lama, melandai, atau bahkan berbalik,” jelas Li dikutip dalam keterangannya, Kamis (18/9/2025).

Pengaruh Pendapatan: Siapa yang Paling Rentan?

Hasil penelitian menunjukkan pola menarik:

- Pensiunan berpendapatan rendah memang mengalami perbaikan segera setelah pensiun, tetapi setelah dua setengah tahun, tren kesehatan mentalnya mulai menurun.

- Pensiunan berpendapatan menengah justru mengalami peningkatan yang stabil bahkan sebelum pensiun, dan terus naik setelahnya. Namun, mereka yang bekerja di pekerjaan fisik berat tetap memiliki tingkat kesehatan mental yang lebih rendah sepanjang periode ini.

- Pensiunan berpendapatan tinggi tidak banyak berubah sebelum dan sesudah pensiun, tetapi mereka merasakan lonjakan kebahagiaan di tahun pensiun, terutama jika pensiun lebih awal.

“Memahami fase-fase ini membantu kita melihat proses penyesuaian yang dialami seseorang ketika menghadapi tantangan internal dan eksternal,” tegas Li.

Faktor Beban Kerja: Fisik Lebih Berpengaruh

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa pekerjaan dengan beban fisik berat berdampak negatif terhadap kesehatan mental bahkan setelah pensiun.

Namun, tuntutan mental dalam pekerjaan tidak menunjukkan hubungan yang jelas. Hal ini mendukung gagasan bahwa beban fisik kronis dapat meninggalkan dampak jangka panjang.

Waktu Pensiun: Cepat atau Lambat?

Studi ini juga menyoroti bahwa pensiun bukan peristiwa tunggal, melainkan proses bertahap.

Pada kelompok berpendapatan tinggi, mereka yang pensiun lebih lambat mengalami perbaikan kesehatan mental yang lebih lambat pula. Ini bukan berarti pensiun terlambat itu buruk, tetapi efek “bulan madu” pensiun mungkin terasa lebih kecil.

Di Belanda, usia pensiun resmi adalah 67 tahun pada 2025. Memahami kapan penurunan mental paling mungkin terjadi membantu keluarga dan layanan sosial memberikan dukungan yang tepat waktu.

- Bentuk dukungan yang disarankan antara lain:

- Konseling keuangan untuk pensiunan berpendapatan rendah

- Kelompok dukungan sebaya untuk wanita lajang yang pensiun dengan sumber daya terbatas

- Opsi kerja paruh waktu atau ringan menjelang pensiun

Pengurangan beban fisik di tahun-tahun terakhir bekerja agar kesehatan mental tetap terjaga

Selain itu, sistem kesehatan dapat menggunakan skrining seperti MHI-5 untuk mendeteksi risiko sejak dini, sehingga pensiunan tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Keterbatasan Studi 

Meskipun kuat, penelitian ini memiliki batasan:

- Fokus hanya pada satu negara dengan sistem pensiun tertentu

- Tidak membedakan pensiun sukarela atau terpaksa

Peneliti menyarankan penelitian lanjutan di negara lain dengan aturan pensiun berbeda untuk melihat apakah pola yang sama akan muncul. @desi

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.