Pemkot Bandung Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Harga dan Mobilitas Jelang Nataru
“Bandung ini kota wisata. Mobilitas tinggi menjelang Nataru bisa jadi peluang ekonomi, tapi juga ancaman inflasi kalau tidak diatur. Kita harus pastikan semua nyaman — yang berlibur, yang berjualan, maupun yang merayakan,” kata Farhan.
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Bandung menyiapkan empat strategi utama. Pertama, menjamin ketersediaan pangan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) serta memperkuat program Buruan SAE. “Buruan SAE jangan dianggap cuma kebun kecil warga. Itu menenangkan psikologi publik. Kalau cabe mahal, ya alhamdulillah masih ada kentang,” selorohnya.
Kedua, memperbaiki rantai pasok dan pengelolaan pasar. Farhan menyoroti bahwa masalah distribusi dan kebersihan pasar bisa berdampak langsung pada logistik pangan. “Kalau pasar ditutup karena pelanggaran lingkungan, rantai pasokan bisa lumpuh,” ujarnya. Ketiga, menggelar gerakan pasar murah untuk menenangkan masyarakat, dan keempat, memperkuat komunikasi publik agar warga tetap tenang menghadapi fluktuasi harga.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung, Dudi Prayudi, melaporkan bahwa Bandung termasuk kota konsumtif dengan ketergantungan tinggi terhadap pasokan pangan luar daerah. “Ketergantungan ini membuat kita rentan terhadap fluktuasi harga, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.
Dengan sinergi antarlembaga dan strategi yang terukur, Pemkot Bandung optimistis mampu menjaga inflasi tetap stabil, memastikan pasokan aman, serta menciptakan akhir tahun yang tenang dan sejahtera bagi masyarakat.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!