Pemdes Neglasari Kembangkan Ekowisata Bertema Pertanian dan Lingkungan
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Artha Guna Desa Neglasari, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, mencatatkan kinerja positif sebagai salah satu dari enam BUMDes penyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) tertinggi di wilayah tersebut.
Sejak berdiri pada 2016, BUMDes Artha Guna menunjukkan perkembangan pesat, terutama sejak 2020. Saat ini, unit usaha yang dikelola meliputi simpan pinjam, penyewaan sarana olahraga, jasa internet, hingga waterpark, dengan total aset mencapai lebih dari Rp 700 juta.
Dari kegiatan usaha tersebut, BUMDes berhasil mengantongi laba kotor sekitar Rp 30 juta setiap bulan. Pendapatan ini dimanfaatkan untuk menggaji tiga pengurus dan enam pegawai tetap BUMDes yang mencapai 9 orang, sekaligus menekan angka pengangguran di Desa Neglasari. Pengurus dan pegawai BUMDes pun secara mandiri mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.
Para pengurus maupun pegawai di BUMDes Artha Guna dengan memberdayakan anak kampung sini atau yang akrab disebut akamsi. Di lokasi waterpark juga turut memberdayakan akamsi yang mencapai 100 orang, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.
Namun saat ini sudah selama 17 hari, Pemerintah Desa Neglasari sedang mengembangkan destinasi baru desa wisata dengan konsep ekowisata Panenjoan Desa Neglasari pada lahan seluas 1 hektare.
Kepala Desa (Kades) Neglasari, Asep Zaenal Malik Ibrahim bersama Direktur BUMDes Artha Guna Sofian Ibnu Pandi serta para pekerja BUMDes tampak hadir di kawasan penataan obyek wisata baru dengan konsep ekowisata tersebut.
"Dalam proses pengembangan dan penataan lokasi ekowisata tersebut nantinya memberdayakan akamsi di Desa Neglasari," kata Asep di lokasi pembangunan desa wisata dengan konsep ekowisata Panenjoan Desa Neglasari, Selasa (1/7/2025).
Untuk tahap awal pengembangan pembangunan obyek wisata baru buatan itu, Kepala Desa Neglasari menganggarkan Rp 400 juta lebih dari sumber anggaran dana desa tahun 2025. Anggaran sebesar itu untuk penataan cat and field, gazebo, lahan parkir, jogging track, area kuliner, dan penataan lainnya yang disesuaikan dengan site plan atau gambar perencanaan pembangunan ekowisata.
"Namun dalam pengembangan ekowisata itu tidak mungkin sepenuhnya menggunakan dana desa yang mengalami keterbatasan. Untuk itu, perlu mendapatkan dukungan anggaran dari Pemkab Bandung melalui DPUTR maupun dari Provinsi Jabar dan BBWSC terutama untuk pembangunan TPT (Tembok Penahan Tanah) dengan panjang 250 meter, tinggi 2 meter dan lebar 40 cm. Sebab, pembangunan TPT dengan kebutuhan anggaran mencapai ratusan juta rupiah itu berada di aliran air sungai," tuturnya.
Asep mentargetkan pembangunan ekowisata pertanian dan lingkungan itu ditargetkan rampung sampai tahun 2027 mendatang. Dengan kebutuhan anggaran capai Rp 5 miliar, sedangkan ketersediaan anggaran dari dana desa sebesar Rp 1,5 miliar.
"Untuk tahun 2026 mendatang berencana membangun musola, kantin, ruang pertemuan dan beberapa gazebo serta tempat penginapan dalam bentuk tenda. Pada tahun 2026 berencana membangun sekolah lingkungan dan sekolah tani," ujarnya.
Pengembangan desa wisata itu sebagai tindaklanjut dari Surat Keputusan (SK) Bupati Bandung bahwa Desa Neglasari masuk pada 100 desa wisata di Kabupaten Bandung. Selain itu untuk menjawab instruksi Gubernur Jawa Barat disebutkan sekolah tak boleh melaksanakan study tour ke luar daerah.
"Dengan harapan ekowisata itu dapat menjadi pilihan untuk kegiatan anak-anak sekolah. Mulai disaat libur sekolah, pramuka, camping area, perpisahan siswa sekolah, selain itu sarana edukasi lingkungan dan lahan pertanian bagi anak-anak sekolah," tuturnya.
"Lokasi ekowisata Panenjoan Desa Neglasari ini, setelah selesai dibangun akan dikelola oleh BUMDes Artha Guna. Dengan harapan bisa menambah PAD BUMDes," imbuhnya.
Asep berharap pengembangan ekowisata di Desa Wisata Neglasari ini dapat meningkatkan ekonomi sirkular warga setempat. Sebab nantinya akan dibangun prasarana sarana kegiatan usaha masyarakat sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat.
Dikatakan Asep, Pemdes Neglasari mengembangkan konsep ekowisata karena menyesuaikan karakter dan potensi alam di kawasan tersebut. Di lokasi ekowisata itu ada potensi pertanian palawija dan sayuran, selain kawasan pertanian padi.
Ada pula TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). TPS3R itu bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
Untuk menunjang pengembangan dan daya tarik obyek wisata baru ekowisata itu, Asep berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang berharap ada upaya peningkatan kualitas pembangunan Jalan Neglasari-Padaulun sepanjang 2 km.
"Apakah itu mau dibangun dengan cara dihotmix, dibeton atau rigid," harap Kepala Desa Neglasari. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!