Pembicaraan Nuklir AS–Iran di Jenewa Berakhir Tanpa Kesepakatan, Sinyal Kemajuan Muncul di Tengah Ancaman Militer
Ia menegaskan bahwa Iran secara jelas menuntut pencabutan sanksi ekonomi sebagai bagian dari kesepakatan, sementara Washington selama ini bersikeras bahwa pelonggaran sanksi hanya akan diberikan setelah Iran memberikan konsesi besar.
Salah satu ganjalan utama adalah tuntutan Amerika Serikat agar Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium. Washington meyakini pengayaan uranium dapat membuka jalan bagi pengembangan senjata nuklir, meskipun Iran berulang kali membantah memiliki ambisi tersebut dan menyatakan programnya bertujuan damai. Selain isu nuklir, pemerintahan Trump juga menuntut agar program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan dimasukkan dalam agenda negosiasi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyebut penolakan Iran untuk membahas program rudal balistik sebagai “masalah besar” yang pada akhirnya harus diselesaikan. Ia menilai rudal tersebut mengancam stabilitas kawasan, meskipun Iran menolak tuduhan bahwa sistem persenjataannya ditujukan untuk menyerang wilayah Amerika Serikat.
Di tengah tekanan internasional, dinamika domestik Iran juga berada dalam sorotan. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi yang diperketat dan gelombang protes dalam negeri. Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis menegaskan kembali bahwa Khamenei telah melarang pengembangan senjata pemusnah massal melalui dekret agama sejak awal 2000-an.
“Itu secara jelas berarti Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir,” ujarnya.
Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Sejak Januari, Trump kembali meningkatkan tekanan dengan pengerahan jet tempur dan kelompok tempur kapal induk di perairan sekitar Iran. Teheran sebelumnya merespons serangan dengan meluncurkan rentetan rudal ke Israel dan memperingatkan akan membalas keras jika kembali diserang, memicu kekhawatiran konflik regional yang lebih luas dan mengguncang stabilitas pasar energi global.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!