Pembangunan Infrastruktur Pengendali Banjir DAS Bengawan Solo Belum Efektif, Ini Penyebabnya
Akibatnya, air hujan yang seharusnya masuk ke tanah sangat kurang. Sebagian besar curah hujan menjadi aliran air permukaan, sehingga dampaknya beban sungai sangat berat.
"Pembangunan di perkotaan menimbulkan perubahan tata ruang sangat masif. Kondisi itu diperburuk kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Di sungai bukan hanya terdapat sampah rumah tangga, tetapi juga ada kasur bahkan sampai barongan atau rumpun bambu terbawa aliran di sungai," tandasnya.
Menyinggung masalah curah hujan yang diprakirakan Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dia sependapat dengan Dirut Jasa Tirta, Milfan Rantawi, prakiraan BMKG sendiri kadang-kadang meleset. Sehingga hal itu berpengaruh terhadap prosedur baku operasional Bendungan Gajah Mungkur Wonogiri, yang merupakan salah satu infrastruktur pengendali banjir.
Sebelumnya, Dirut Jasa Tirta I, Milfan Rantawi, yang mengelola sebagian wilayah Bengawan Solo dan Bendungan Gajah Mungkur, menjelaskan pembukaan spillway yang dianggap berbagai kalangan menjadi penyebab meluapkan Bengawan Solo.
"Kami mempunyai pola baku dalam pengelolaan Waduk Gajah Mungkur, baik sebagai penghasil tenaga listrik maupun untuk pengendalian banjir. Spillway waduk saat terjadi banjir, karena elevasi 137 meter mendekati siaga merah. Kalau spillway tidak dibuka saat elevasi mendekati siaga merah kami bisa digantung, karena berbahaya," ujarnya.
Kendatipun spillway dibuka, katanya, air yang dilepas masih dalam batas toleransi. Menurut dia, kontribusi air waduk Wonogiri sangat kecil, karena air yang dilepas tidak lebih 20 persen dari yang diharuskan.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!